Hendra Januar
Beberapa waktu lalu, saya mencoba kembali membuka karya Russel yang disebutkan di judul. Itu karya yang wajib dibaca bagi siapa pun yang ingin belajar filsafat, sependak yang saya amati, terutama di beberapa kampus yang serius.
Karya itu ditulis dengan bahasa yang mudah dipahami, meskipun tidak kurang membingungkan. Meski hanya kurang lebih 79 halaman dengan tiga bab dan 23 subjudul, pembaca akan dibawa pada satu fenomena sehari-hari dan didorong untuk merenungkannya.
Bab pertama Russell membahas “Appearance and Reality”, atau bisa diterjemahkan dengan “Apa yang Tampak dan Apa yang Nyata”, atau dalam bahasa gampangnya “Penampilan dan Realitas.” Saya mengerti kenapa topik ini yang diangkat pertama kali, karena persoalan realitas yang menjadi titik awal berangkatnya filsafat – sebelum topik lain bermunculan.
Di awal paragraf, sebagai umumnya filsuf membahas satu masalah, Russell melemparkan pertanyaan: “Adakah pengetahuan di dunia yang benar-benar pasti sehingga mustahil bagi manusia untuk meragukannya?” Hanya dengan satu pertanyaan, dia telah berhasil membawa saya ke dunia filsafat.
Untuk memperjelas pertanyaan itu, Russell memberi gambaran sehari-hari. Dia menceritakan ketika dirinya duduk di atas kursi di sebuah ruangan yang cerah, lengkap dengan meja di depannya. Dia memfokuskan diri pada ‘kesan’ (yang tampak) dari meja, yakni warnanya yang coklat muda. Namun, apakah meja itu benar-benar berwarna coklat muda? Dia tidak yakin.
Kemudian dia berdiri dan bergerak ke sudut lain untuk melihat meja yang sama. Dan dia mendapati warna meja tidak seperti semula, meja terlihat berwana coklat tua, bahkan medekati hitam. Dia lalu menemukan satu sebab kenapa warna meja tidak utuh, jawabannya karena cahaya lampu. Bagian meja yang tersorot lampu akan tampak berwarna coklat muda, sedangkan yang tidak tersorot lampu –atau sedikit tersorot – akan tampak coklat tua kehitam-hitaman.
Pengalaman ini membawa saya pada satu pertanyaan seputar objektivitas: Apa warna yang sebenarnya dari meja itu sendiri, di luar cahaya yang menyorotinya?
Masih di ruang yang sama, Russell bergerak mendekati meja, pelan-pelan menyentuh kulit meja dengan jari dan telapak tangannya. Apa yang dirasakan dengan indera peraba itu adalah tekstur meja yang halus, dari ujung ke ujung. Dia tidak percaya apa yang dirasakan oleh sentuhan itu menunjukkan meja benar-benar halus. Dia kemudian mengambil kaca pembesar, dengan kualitas terbaik, untuk melihat kulit meja dengan jarak yang super dekat. Didapatkan olehnya, melalui kaca pembesar, kulit meja yang penuh bukit-bukit kecil dan bintik-bintik kasar. Semakin diperbesar semakin tampak tekstur yang lebih rumit.
Pengalaman menyentuh meja ini menggiring saya, sebagai pembaca, mengajukan pertanyaan berikut: Manakah tekstur yang sebenarnya dari meja, apa yang saya sentuh atau apa yang saya lihat melalui kaca pembesar?
Dia mengakhiri bab ini dengan menegaskan bahwa filsafat menuntun kita dari sesuatu yang seakan-akan sudah dipastikan kebenarannya, menuju dunia yang belum jelas – namun penuh ketakjuban. Apa yang dialami Russell memberi tahu kita bahwa penampilan (appearance) tidak sama dengan kenyataan (reality). Tahun lalu, saya masih ingat, ketika saya mengajar filsafat di kelas, saya pernah mengatakan kepada Mahasiswa: “Kecantikan wajah perempuan disebabkan karena jarak pandang yang pas, pencahayaan yang cukup dan dengan mata yang sehat.”