Bagi Jean-Paul Sartre (1980 M), kebebasan adalah segalanya. Kita ingin dicintai oleh seseorang yang secara bebas memilih untuk mencintai kita, bukan karena dipaksa oleh dorongan-dorongan eksternal.
Jenis kepemilikan dalam cinta sangat berbeda dengan jenis kepemilikan pada benda. Karena benda, apa pun itu, tidak dapat membalas cinta kita. Tapi bagi Sartre, cinta yang romantis tidak memberikan kebahagiaan untuk saling menghargai dan untuk menyatukan dua kebabasan.
Lebih dari itu, cinta adalah konflik di mana kita ingin dicintai untuk kemudian meminta perlindungan dan kenyamanan. Dalam proses itu, kita telah mengubah diri kita dari ‘subjek’ menjadi ‘objek’. Dalam kondisi dicintai, kita tidak menghendaki yang mencintai kita mencintai yang lain. Kita telah membatasi kebebasan orang lain. Sementara kebebasan sebenarnya adalah kemampuan untuk mengubah pikiran tanpa dibatasi orang lain. Dalam kondisi inilah, status ‘subjek’ dan ‘objek’ menjadi tidak tetap dan tidak jelas.
Bagi Sartre, cinta itu berbahaya dan akan mendorong orang untuk jatuh pada lubang masokisme dan sadisme. Masokisme terjadi ketika seseorang berusaha melakukan apa pun yang diinginkan kekasihnya. Pada saat yang sama membatasi kebebasannya sendiri ketika ia memperlakukan kekasihnya sebagai ‘objek’, dan mengikatnya dengan cara apa pun.
Apa yang ingin dikatakan Sartre adalah, dalam cinta, kebebasan selalu kompromis dan itu dapat melahirkan penderitaan. Cinta menjadi perjuangan yang menyakitkan.
Filsuf eksistensialis, Jean-Paul Sartre (1980 M) meyakini bahwa manusia menjalani kehidupan yang berat dan penuh derita. Bukan karena hidup itu mengerikan, tapi karena “manusia dikutuk untuk bebas.”
Manusia semacam dilempar ke dunia untuk “meng-ada”, dan ketika manusiamenyadari keberadaan itu, ia akhirnya harus membuat pilihan. Bahkan ketika manusia memutuskan untuk tidak memilih, itu sudah merupakan pilihan. Menurut Sartre, apa yang kita pilih menunjukkan bagaimana seharusnya kita menjadi manusia.
Sebilah pisau punya “esensi” yang membuat dirinya menjadi pisau. Katakanlah, esensi pisau adalah untuk memotong sayuran dan daging. Jika ia tidak digunakan untuk itu, maka ia bukan lagi pisau (misalnya, digunakan untuk menggali tanah).
Esensi pisau – seperti yang telah disebutkan – adalah kondisi “pra-eksis” pisau secara aktual, di mana seorang tukang membuatnya untuk tujuan tertentu. Namun menurut Sartre, tidak ada tujuan bagi manusia, tidak seperti sebilah pisau dengan tujuan yang sudah didesain oleh seorang tukang.
Jadi bagi Sartre, tidak ada plot, tujuan atau desain yang mengharuskan manusia melakukan ini dan itu. Tidak ada Tuhan yang menulis jalan cerita dan tujuan untuk manusia. Tidak ada seorang pun di dunia ini yang memaksa orang lain bagaimana seharusnya hidup.
Dalam kuliah publik tahun 1945, melalui tulisannya Existentialism is Humanism, Sartre mendeklarasikan sebuah adagium yang sangat populer: eksistensi mendahului esensi. Ungkapan ini menjadi prinsip fundamental eksistensialisme. Menjadi jantung pertahanan yang membuat eksistensialisme terus hidup dan memompa darah ideologinya.
Dalam kuliahnya itu, Sartre berkata:
“Aku menciptakan diriku melalui apa yang aku lakukan. Pilihan-pilihan yang aku buat di dunia tidak memiliki nilai yang tetap. Inilah apa yang membuatku menjadi aku: aku adalah apa yang aku lakukan. Apa yang menambah penderitaan adalah, setiap pilihan yang aku buat menghadirkan gambaran tentang apa yang aku yakini menjadi manusia seharusnya. Dalam upaya membentuk diriku, aku membentuk kemanusiaan. Aku harus bertindak seolah-olah setiap orang mengawasiku, dan tidak ada jalan keluar.”
Siang tadi, saya duduk di depan notebook di kamar, mencoba menyelesaikan tulisan saya tentang Martin Heidegger bagian ketiga. Tetapi saya benar-benar tidak dapat berkonsentrasi seperti biasanya. Seorang pembawa berita, dengan wajah yang prihatin, melaporkan penyebaran virus corona dan peningkatan kasusnya. Tentu saja sejak awal ini bukan lelucon, kendati saya berusaha mengabaikan, kabar itu terus saja mengganggu. Saya juga menyaksikan kecemasan dan kekhawatiran menyebar secepat virus itu sendiri.
Saya kemudian berpikir tentang “efek domino”, atau seringkali orang sebut butterfly effect (efek kupu-kupu), dan bagaimana manusia seharusnya berhubungan di bawah ancaman virus. Saya tidak tahu banyak hal tentang sains, tidak juga membaca dengan rinci usaha pemerintah untuk menanggulangi penyebarannya, tetapi berita yang terus berkembang terdengar sangat tidak mengenakkan.
Seperti banyak orang yang khawatir, saya ingin mengatakan sesuatu dengan jujur, sebagai orang yang berusaha merawat kewarasan. Tetapi saya tidak tahu harus mulai dari mana. Saya hanya tahu bahwa saya saat ini menjadi semakin peduli, bukan hanya pada orang lain secara umum, tetapi juga pada keluarga secara khusus. Pada saat yang sama, hati saya terpukul dengan jumlah kasus yang terus meningkat, ditambah ucapan Luhut Panjaitan yang implisit melihat korban sekedar angka-angka.
Terus terang, di masa “isolasi” ini, tidak banyak aktivitas yang saya lakukan, kecuali mengajar daring dua hari dalam seminggu, olahraga dan tentu saja menulis. Bagi saya, menulis adalah upaya terapi dari kengerian dunia yang, semakian hari, semakin mengkhawatirkan. Dan saya masih meyakini bahwa tidak ada alasan yang lebih baik untuk menulis, kecuali untuk merasakan keindahan bahasa sekaligus rasa sakit pada hidup. Tetapi, apakah itu terlalu berlebihan?
Hari ini banyak sekali orang yang tiba-tiba menjadi ahli tentang virus, seolah-olah mereka mengetahui betul apa yang terjadi. Bahkan protes dari dua kubu politik – antara pusat pemerintah dan DKI Jakarta – terus berlangsung. Sangat ironis, di tengah banyak orang yang gugur “dibunuh” corona, masih ada saja upaya saling mengamankan junjunan. Tetapi saya tidak dapat menemukan bahasa yang cocok untuk menggambarkan semua peristiwa ini, kecuali dengan mengingatkan bahwa dampak politik dari virus ini bisa sangat besar.
Di depan notebook ini, ditemani lagu-lagu jazz dan kopi yang tinggal setengah, saya ingin mengungkapkan rasa takut yang lebih dalam. Bahwa banyak orang yang tidak terbiasa hilang dari keramaian, kemudian mengalami stress, sendirian dan kesepian.
Ketakutan saya, setelah tahu efek virus yang mematikan, tertuju pada efek psikis yang tidak kurang membahayakan. Saya bisa membayangkan satu keluarga yang mengunci pintu setiap hari, menunggu kabar virus berhenti, sementara tabungan mereka semakin terkikis. Seberapa lama manusia bisa sabar? Orang bijak boleh berkata bahwa sabar tidak ada batasnya, tetapi pada kondisi saat ini, saya meragukan kata mutiara itu. Saya juga tidak tahu ketika ada orang mengatakan bahwa “Isolasi adalah seni untuk menyepi”. Beberapa orang mungkin akan melayangkan protes, sebab menyepi dalam ketercukupan materi bisa memungkinkan, tetapi menyepi dalam keterbatasan materi sulit untuk dilakukan.
Najwa Shihab waktu SMA, kedua dari kiri. Foto diambil di twitter dari akun @sibtanyarl
Usia saya tak lagi muda, tetapi juga tidak cukup disebut tua. Seringkali itu tergantung lingkungannya. Di kampung, tiga puluh dua tahun usia yang terlambat untuk menikah. Tetapi di kota, itu usia yang mafhum untuk melajang. Barangkali itulah mengapa tidak jarang saya bulak-balik, ke kampung dan ke kota, untuk sekedar melarikan diri dari pertanyaan yang sama setiap tahun.
Agaknya kurang elok, di masa wabah corona ini, saya malah terpikir soal jodoh. Saya hanya merasa bosan setiap hari dibombardir informasi seputar corona dari segala arah. Tidak di facebook, twitter, instagram, whatsapp, dan obrolan-obrolan di dunia nyata, nyaris semuanya bicara hal yang sama. Memang betul, informasi harus terus up to date, tetapi tidak harus berlebihan, bukan?
Balik lagi ke soal jodoh. Saat ini saya memikirkan siapa yang ditakdirkan akan menjadi pendamping hidup saya nanti. Di mana setiap hari, dialah yang selalu saya lihat, dari bangun tidur sampai tidur kembali. Qiyaman wa qu’udan demi membahagiakan dirinya. Karena hanya dengan itu, saya ikut merasa bahagia. Manunggaling kawula istri, saya dan dia adalah satu.
Tetapi, bagaimana, hingga saat ini saya belum menemukan yang diinginkan. Terkadang saya bertemu dengan perempuan yang tampak sempurna di mata saya, namun kami selalu beda keyakinan: saya yakin mau, dia yakin tidak mau. Akhirnya kami tidak bertemu di tempat yang disebut Rumi sebagai “Ruang Murni”, tanpa dibatasi berbagai prasangka atawa pikiran yang gelisah.
Kepada saya, seorang kawan yang lebih dulu menikah.memberi saran. Katanya tidak perlu banyak memilih untuk pernikahan. Ironisnya saat dia bilang seperti itu, saya lihat nama istri di kontak whatsappnya tertulis “Hitler” – suatu nama yang konotatif, mengisyaratkan sosok yang bringas, kejam dan tanpa ampun. Sekaligus menunjukkan dia sendiri tidak begitu bahagia.
Tapi saran dia sebenarnya bukan hal baru. Saya teringat pada kurun waktu yang jauh dari peradaban moderen, di mana segala sesuatu tampak sederhana dan asri. Kira-kira pada tahun 300 sebelum Masehi, di Athena Yunani, seorang pemuda mendatangi Aristoteles untuk menanyakan apa bedanya cinta dan pernikahan. Filsuf yang sempat berguru pada Plato itu, kemudian menyuruhnya pergi ke kebun bunga untuk mencari bunga yang paling indah.
Berangkatlah pemuda itu menuju kebun bunga. Segera setelah dia masuk, ditemukan olehnya bunga wamar yang merah nan indah. Namun dia berpikir, barangkali di depan ada bunga yang lebih indah. Setiap kali dia temukan bunga, dia mengira di depan ada yang lebih dan lebih, sampai di ujung kebun tidak satu pun bunga dipetiknya. Kemudian dia bergegas kembali ke Aristoteles tanpa sekuntum bunga.
“Seperti itulah cinta,” ucap filsuf yang pernah menjadi guru Aleksander Agung itu. Aristoteles kembali menyuruh hal yang sama. Dan pemuda itu kembali memasuki kebun bunga. Tidak seperti sebelumnya, sekali dia menemukan bunga yang indah, langsung dipetiknya, tanpa berpikir ada yang lebih di depan. Setelah kembali, Aristoteles berkata, “Seperti itulah pernikahan.”
Sekalipun nasehat Aristoteles itu tampaknya benar, saya memperhitungkan dampak selanjutnya, seperti yang dikatakan Franz Kafka: “Lebih baik saling menginginkan tapi tidak hidup bersama, daripada hidup bersama tapi tidak saling menginginkan.”Terbayang jika setiap hari saya hidup bersama wanita yang tidak saya inginkan, bertahun-tahun, rasanya seperti neraka. Memang orang lain itu – termasuk pasangan yang tidak diinginkan – menurut Sartre, adalah neraka.
Wa min ayatihi an kholaqo lakum min anfusikum azwajan, kata Tuhan. Fenomena berpasang-pasangan itu tanda kekuasaan Ilahi. Ada panas ada dingin, ada barat ada timur, ada siang ada malam, ada perempuan ada laki-lali dan ada istri ada suami. Maka seharusnya ketika ada Hendra Januar, ada Ibu Januar. Namun, seperti apakah sosoknya?
Pertanyaan itu membawa saya pada sosok Najwa Shihab, perempuan yang sering muncul di layar televisi dan tidak jarang melontarkan pertanyaan-pertanyaan tajam kepada tamunya. Perempuan yang sempat menjadi media darling di Metro Tv itu, bagi saya memang mendekati sempurna: cantik, cerdik dan karismatik. Itulah mengapa, saya menyaksikan banyak sekali baik lelaki maupun perempuan, yang mengidolakan Najwa. Namun begitu, tentu saja, Najwa hanya ada satu. Dan lagi pula, ini sekedar menjawab pertanyaan tentang figur ideal.
Alhamdulilah, meskipun masa karantina berlangsung cukup lama, tapi duit tetap mengalir ke rekening Erick Tohir.
Bagaimana dengan rekening saya? Saya menunggu kebaikan Bambang Hartono, selaku pemilik BCA, untuk tidak memblokir ATM saya yang kering kerontang, seperti isi perut anak-anak di Ethiopia.
Ngomong-ngomong, saat ini saya sedang menikmati Secangkir Good Day. Segelas kopi hasil dari proses panjang sampai tiba di meja ini: sejak pemupukan kopi, penyiraman, panen, buruh-buruh pabrik yang berkeringat, mesin-mesin korporasi yang canggih, grosir, kurir, dan prosesnya lain yang mendukung.
Ketika saya meminumnya, saya membayangkan wajah-wajah para petani kopi di kaki gunung Burangrang, anak istri mereka yang tengah memasak ikan asin dan sambal. Tapi bayangan saya memburuk ketika ingat Corona ini belum berakhir. Barangkali, mereka akan harus diam di dalam dusun yang kecil. Terisolasi.
Di saat yang sama, saya membayangkan keluarga Abu Rizal Bakrie atau keluarga Anang Hermansyah yang rumahnya serupa istana. Bagi mereka mengisolasi dalam rumah selama berbulan-bulan bukan masalah. Kalau kamu pergi ke arah timur, akan kamu temukan taman bunga. Ke arah selatan, tampak kolam renang dengan gazebo yang sejuk di tepinya. Puluhan kamar, belasan ruang bebas. Seperti negara kecil yang terputus dari kehidupan luar.
Tapi tidak untuk keluarga petani kopi yang saya sebutkan tadi. Berjalan kiri, akan kamu temukan bilik bambu yang rentan. Ke selatan, kamu akan sampai di ujung jurang. Mereka mendirikan gubuk untuk sekedar menahan hujan dan melindungi diri dari panas matahari.
Maka saya berpikir, karantina diri dalam waktu yang lama bukan hanya masalah untuk ekonomi domestik, tapi juga bencana untuk rakyat kecil. Virus itu menyebar di kota, oleh orang-orang berpendidikan luhur, yang mengerti kehidupan seharusnya. Penduduk pelosok yang sekedar bisa baca tidak tahu apa-apa, tapi mereka bisa terkena dampaknya.
Sampai tulisan ini dibuat, kopi saya tak terasa sudan tinggal setengah. Dan saya membayangkan situasi akan berubah semakin baik. Bulan depan (ini waktu yang lama) kasus-kasus berkurang dan kita dengan gembira merayakan kemenangan manusia. Apakah penderitaan akan berakhir? Belum. Dolar hari ini masih di angka Rp 15.800. Ini artinya keberhasilan mengusir virus akan disusul dengan keadaan ekonomi yang juga belum membaik.
Saya ingin membayangkan esok hari yang indah, cerah, dan sejahtera. Tapi fakta tidak mendukung itu. Baiklah karena berkhayal itu gratis, saya akan secara liar membayangkan Indonesia ini tahun depan sejahtera. Kekayaan laut dikelola oleh negara dan sepenuhnya untuk rakyat. Hutan-hutan dan gunung dikelola untuk kesejahterana rakyat. Segala bentuk hutang terlunasi. Konflik horizontal menurun. Konflik politik semakin mengarah pada pro-keadilan. Alhamdulilah, Indonesia berjaya, dalam khayalan.
Seperti janji saya di bagian pertama, setelah mengurai apa yang menjadi fokus Martin Heidegger, sampai kepada upayanya untuk membangun “kesadaran baru” di dunia filsafat. Di sini, saya akan melanjutkan pertanyaan yang masih menggantung: kesadaran apa yang dimaksud Heidegger?
Untuk menjawab ini, mari kita mulai dengan sebuah kisah seorang pemancing ikan yang setiap hari pergi ke danau:
Pada sore yang cukup cerah, dia pergi ke danau yang tak jauh dari rumahnya. Sesampainya di tepi danau, dia duduk di bawah pohon dan mulai melempar joran. Senar pancing melesat jauh sampai lima belas meter ke arah danau. Dia menunggu dan berharap ada ikan yang segera menggigit umpan.
Tidak seperti biasanya, tiga jam sudah berlalu, tidak satu pun ikan yang sedikit saja tertancap kail. Bahkan sebatang joran yang dia pegang, kini diletakkan di atas rumput dan tidak bergetar sama sekali. Sambil sabar menunggu, wajahnya menengadah dan dilihat olehnya langit yang cerah dihiasi kawanan awan putih yang bergerak lamban.
Namun tiba-tiba, setelah beberapa saat, dia jatuh pada keadaan yang aneh. Dia menangkap sesuatu yang dalam dari kawanan awan itu, sesuatu yang dihadapinya dan memungkinkan untuk tenggelam lebih jauh. Dia merasakan awan-awan itu berbicara padanya, membuka diri dengan telanjang, seperti para penari yang tiba-tiba melepas bajunya. Dia melihat semuanya dan sulit untuk membahasakan apa yang telah dialaminya.
Kemudian dia memalingkan wajahnya dan kembali memandang kail yang mengambang di danau. Kesadarannya yang tenggelam di awan kini memudar. Dia kembali pada realitas sebelumnya, dengan perasaan dan ekspresi wajah yang tampak bingung. Hari hampir mendekati malam, dia bergegas tanpa seeekor ikan pun di kerangjangnya. Tapi sebenarnya, dia tidak pulang dengan hampa.
Ini sekadar fiksi yang saya susun dengan singkat, dengan harapan dapat mendekati apa yang dimaksud kesadaran oleh Heidegger. Apa yang dialami pemancing itu gambaran sederhana untuk “pertanyaan tentang Ada” dan “kesadaran”.
Pertama, pertanyaan tentang Ada tidak bisa dijawab dengan super cepat, meskipun untuk sesuatu yang berada di depan mata. Dalam cerita pemancing, tidak muncul dalam kesadarannya pertanyaan definisi awan. Lebih dari itu, dia mengalami kondisi yang “aneh” dan “samar-samar”, keberadaan awan yang mencoba telanjang dan menarik kesadarannya. Namun kesadaran itu tidak spenuhnya “diberikan” kepada si pemancing. Ada yang mungkin bisa diungkapkan olehnya, dan ada pula yang tidak. Keberadaan awan menyisakan “misteri” yang seharusnya menjadi bunyi alarm untuk semua filsuf. Dan Heidegger mendengar bunyi itu.
Kedua, pengalaman meditatif yang memungkinkan realitas menjadi “terbuka” dapat hilang ditutupi aktivitas dan rutinitas sehari-hari. Kita bisa menyebutnya “dunia keseharian” yang tanpa penghayatan dan renungan. Kesadaran selalu berubah-berubah, apalagi di dunia keseharian yang bergerak cepat dari satu fenomena ke fenomena lainnya. Heidegger bilang, “Pertanyaan tentang Ada bisa dengan mudah dihindari. Kita menerima hal-hal yang ada begitu saja, berpaling dari pertanyaan, menuju rutinitas sehari-hari.”
Ketiga, pada akhirnya kita bertanya, lalu siapa yang berhasil merawat kesadaran semacam ini? Heidegger menjawab: Para penyair. Bagi para penyair, Ada menjadi perhatian yang mendalam. Mereka terus mengungkapkan kesadarannya melalui rangkaian puisi yang hidup. Kata Heidegger, “Ada bermukim dalam bahasa.”
Pertanyaan tentang Ada membutuhkan bahasa “puitik” ketimbang bahasa teoritik. Apakah ini bisa berarti akhir dari kebutuhan pada sistem logika, nalar, kebenaran, pembuktian dan semua yang dibangun dengan argumen terstruktur? Semua yang saya sebutkan di atas (logika, nalar, dsb.) bisa jadi cara untuk mengabaikan pertanyaan tentang Ada – tidak jauh berbeda dengan kebanyakan orang yang sama-sama menghindarinya karena ditutupi rutinitas keseharian.
Kita senantiasa menjawab pertanyaan apa pun dengan nalar logika, atau metode saintifik. Seperti dengan mengumpulkan “fakta” yang hendak diselidiki, lalu melakukan observasi dan memberi gambaran tentang fakta– bukan sebagaimana faktaitu sendiri. Atau dengan cara yang paling gampang, kenapa kita butuh usaha yang rumit untuk sekedar memahami Ada?
Sebagai contoh: Bagaimana kita tahu sesuatu itu “ada”? Jawabannya mudah, yakni, dengan cara melihatnya, merabanya, mendengarnya dan lain-lain. Sensory perception (persepsi inderawi) menawarkan metode dan jawaban yang tidak sulit – kecuali berusaha mempersoalkan persepsi indera seperti Descartes dan Russell. Tapi, si pemancing ikan tadi, keluar dari cara sederhana ini. Dia mengalami semacam phantasmal realism, yang secara inheren tidak tersentuh dengan indera dan mungkin tidak masuk akal.
Maka, selanjutnya, pertanyaan tentang Ada akan berhadapan dengan salah satu mazhab besar dalam filsafat, yang dihuni oleh banyak filsuf kawakan seperti Hobbes, Hume dan Locke. Yakni yang terkenal dengan mazhab empirisisme.
Bagaimana cara Heidegger membantah mazhab empirisis? Dan apa yang bedanya “Ada” (Being) dengan “yang Ada” (Beings)? Nantikan bagian ketiga di blog yang sama. Ikuti terus guys! 😂
Seseorang berkata, “Philosophy is the way to find truth, wisdom and justice.” Seorang lain yang mendengar itu ingin memahami lebih jauh, “So, what is truth?” Mereka selanjutnya mendiskusikan definisi kebenaran, kebijaksanaan dan keadilan, dengan puluhan teori yang menopangnya.
Tapi tahukah Anda? Bagi Heidegger, apa yang mereka diskusikan tidak membawa mereka kemana-mana, jika tidak disebut sia-sia. Mereka melupakan apa yang terselip di antara pertanyaan dan jawaban: kata kerja “is”.
“Is” dalam bahasa Inggris bagian dari kata kerja “To be”. Sebuah kata kerja yang bermakna “being”. Dalam bahasa Indonesia – meskipun tidak persis – kata “adalah” mempunyai makna yang tidak jauh beda.
Ketika kita bertanya “What is ‘Is’?”, sejatinya kita tengah mempertanyakan “Being” (Ada). Pertanyaan inilah yang menjadi fokus filsafat Martin Heidegger. Terdengar aneh? Memang, tapi berangkat dari pertanyaan sederhana itu, Heidegger membawa kita pada dunia yang tidak lagi sama.
Dalam bukunya Being and Time, Heidegger menyatakan sesuatu yang terdengar provokatif. Ia menegaskan, pemikiran barat telah melupakan pertanyaan tentang Ada, bukan hanya baru-baru ini, tapi kelupaan itu telah membentang sampai 2,500 tahun lalu. Tentu saja, para filsuf tidak secara harfiah melupakan makna Ada, tapi cara mereka mendekatinya justru malah menjauhkan mereka dari Ada itu sendiri. Bagaimana bisa? Ikuti terus tulisan ini.
Dari fakta itu, Heidegger terpanggil untuk membawa kembali ‘pertanyaan Ada‘ pada porsi yang lebih sentral dan serius: Bagaimana Ada dapat dipahami? Pemikiran barat tumbuh berkembang dalam kelupaan akan makna Ada – bukan hanya dalam filsafat, tetapi juga dalam ilmu pengetahuan alam (natural sciences), ilmu pengetahuan manusia (human sciences) dan bahkan dalam kehidupan sehari-hari.
Menanyakan Ada, dalam filsafat Heidegger, berarti menunda sementara cara-cara tradisional untuk memahaminya, termasuk metodenya, konsep-konsepnya dan segala asumsi yang mendasari pertanyaan. Dalam bahasa Heidegger, “menawarkan sebuah pemikiran yang menghasilkan kesimpulan sebaliknya.” Sebagaimana banyak filsuf yang menawarkan pemikiran radikal dan memiliki efek destruktif, Heidegger memasuki medan yang tak kalah kontroversial.
Eksistensi di Dunia Kebendaan
Pada kesan pertama, pertanyaan tentang Ada tampak bukan pertanyaan yang berbahaya, tidak mengganggu kehidupan lebih luas; tidak lebih berbahaya dibanding pertanyaan Jokowi atau Prabowo. Agaknya memang demikian, orang-orang yang mendengar pertanyaan itu selalu mengira diskusi akan pergi ke langit dan menjauhi bumi.
Memanglah kata Ada terkesan sangat abstrak, di mana makna yang dikandungnya melesat jauh dan melayang-layang di pikiran. Heidegger menyindir para filsuf sebelumnya dengan mereka ulang bahasa mereka, “Kata itu kosong dan hampa. Ia tidak merujuk pada eksistensi secara umum.” Ia meneruskan, “Termasuk tidak pada segala sesuatu? Bagaimana pun segala sesuatu itu ada, dan tidak satu punentitas partikular berhasil diidentifikasi. Itu jenis pendekatan yang keliru. Tugas saya adalah menemukan cara berpikir tentang ‘Ada’ dan cara bahasa mengungkapkannya.”
Banyak orang mungkin bertanya-tanya, mengapa mempertanyakan Ada begitu penting? Setiap hari mereka terlibat dengan banyak hal yang ada: kaca, kursi, tiang, awan, hujan, mobil bahkan kota-kota. Rasanya dengan tidak mengajukan pertanyaan itu pun hidup normal-normal saja. Persoalannya, mereka – atau bahkan kita – seolah telah memahami segala hal yang ada secara partikular, dan kemudian praktis mengabaikannya. Sekali kita berupaya memahaminya, kita selalu terjebak ke dalam cara-cara yang teoritik, baik dengan terma-terma saintifik maupun filosofis. Tetapi di antara kegiatan praktis dan upaya teoritis itu, kita dan mereka sama-sama lupa bahwa sesuatu itu ada di sana.
Heidegger ingin menciptakan semacam “kesadaran baru” tentang fenomena tersebut. Dan mungkin kesadaran yang dibangunnya timbul dari is-ness (keberadaan) yang sama sekali sulit dipahami, yang kemudian persoalan Ada tidak lagi dipandangan sebagai persoalan biasa dan banal.
Kesadaran apa yang dimaksud Heidegger? Tunggu bagian kedua, dan tetap ikuti sesi-sesi berikutnya. (Dah kayak serial neflix ya? Biarin)
Hidup semakin tak tentu arah. Aku anak panah yang terlanjur melesat, tetapi belum sampai di tujuan. Atau mungkin tujuan itu belum ada.
Hari demi hari aku habiskan untuk mencari cara, supaya dunia yang aku huni masih layak aku jalani. Ada malam-malam yang terlalu sunyi, dan aku tak mampu menyusunnya dalam bahasa yang bisa dimengerti – bahkan oleh aku sendiri.
Hidup kok begini amat, ya, ada orang-orang yang dilahirkan di atas ranjang emas; ada orang-orang yang lahir tanpa alas. Setiap orang berlayar di atas perahu menuju pulau masing-masing, dan ketika seseorang telah sampai di sana, ia bercerita tentang keindahan yang membuatku iri.
Aku merasa menjadi lelaki yang paling cengeng di dunia. Perasaan kesal, marah, geram dan sedih berkumpul dalam satu hembusan nafas. Kehidupan yang hadir di depanku adalah kehidupan yang dihadiahkan bukan untukku. Aku cemburu pada mereka yang berhasil menemukan arti, yang merasa bahwa hidup sudah, sedang dan akan dijalani bersama makna-makna yang dibungkus dalam bahasa yang begitu mewah. Saking mewahnya, sampai-sampai aku tidak tahu maksudnya apa.
Orang-orang tampak tahu persis apa yang harus mereka lakukan, dengan cara mengada di dunia yang serba tak pasti. Tetapi tidak jarang aku mendengar seseorang yang hidupnya aman dan mapan, kemudian ia bertanya-tanya mengapa hidupnya tak kungjung bahagia.
Saya semakin tidak mengerti dunia yang saya huni akhir-akhir ini. Banyak hal yang terus berkembang dan bergerak dengan cepat. Seperti aliran sungai deras yang didorong dari hulu, saya merasa kehilangan makna.
Ibarat berada di tengah lalu lintas tanpa lampu merah, dunia mengajak saya untuk ikut berlari, entah kemana. Setiap hari saya dibombardir informasi dari segala arah, sampai-sampai saya tidak tahu mana informasi yang benar dan mana yang tidak. Setiap orang menjadi penyambung lidah dari realitas. Dan sialnya, tidak jarang saya terbawa kecepatan arus yang sulit dibendung.
Saya mengalami keterlemparan yang tidak disadari, dari satu isu ke isu lainnya, dari satu lelucon ke lelucon lain yang tak lagi menghibur. Semua perasaan campur aduk tak karuan; suatu saat saya merasa tak peduli, tapi pada saat yang sama saya dipaksa peduli. Saya sedang mengalami strange moment, masa yang aneh, di dunia yang sama anehnya.
Di tengah sirkuit informasi itu, saya berusaha mencoba menangkap satu makna yang tetap, tapi selalu berujung kegagalan. Saya tidak tahu apa sebenarnya semua ini. Di masa isolasi diri selama satu bulan penuh dalam rumah, perenungan saya seperti pelari maraton yang tidak tahu kemana akan tiba. Terus saja berlari dan tidak jarang malah menjauhkan diri dari realitas konkret. Suatu saat ada pesan masuk via whatsapp dari seorang kawan yang beryanya, “Lagi di mana?”
Itu pertanyaan mudah seharusnya, tapi tiba-tiba saya merasa sulit menjawab. ‘Di mana’ menunjuk satu tempat, berada di sini atau di sana yang empirik. Tapi juga bisa berarti tempat yang bersifat ontologis – sebuah realitas yang berada di seberang yang di sini atau di sana. Alhasil, saya tidak tahu sedang berada di mana. Tapi untuk mempermudah percakapan, saya berikan jawaban yang dia maksudkan , “Saya lagi di rumah.”
Seorang kawan bilang, saya mengalami aktivitas berpikir yang berlebihan, over thinking, sebutan lain dari kenyataan bahwa saya menganggur. Tapi saya juga apa batas “berlebihan” dalam pikiran. Apakah pikiran ada batasnya, di mana ketika saya sampai di sana, maka secara otomatis pikiran saya berhenti?
Apakah ini disebabkan karena saya memang tidak menyukai simpul-simpul abstrak, teoritik, yang disusun dengan rumus-rumus pasti, sementara saya memaksakan diri untuk menangkap makna tetap dari realitas yang terus berubah, dari hari ke hari bahkan dari detik ke detik?
Saya tidak tertarik untuk mengabaikan realitas dengan mencerabut eksistensinya ke dalam kategori-kategori dalam pikiran dengan cara yang tradisional; atau dengan metode saintifik yang melulu mengukur satu benda dan mengabaikan eksistensinya. Tapi konsekuensinya, saya terjebak pada das nicht atawa ketiadaan makna.
Ketika Gregor Samsa terbangun dari mimpi buruknya di suatu pagi, ia mendapati dirinya berubah menjadi seekor serangga yang mengerikan. Ia melihat perutnya yang coklat terbelah menjadi beberapa bagian, dan punggungnya yang keras seperti besi.
Itulah kesan pertama ketika saya membaca novel aneh, Metamorphosis (1915), yang ditulis oleh filsuf murung Franz Kafka. Cerita yang ditulis dalam novel itu diisi banyak hal menyedihkan. Saya mengikuti hari demi hari Gregor Samsa, setelah berubah jadi serangga. Bagaimana keluarganya sendiri sama sekali tidak peduli, hanya beberapa kali memberinya makan, sebelum akhirnya diabaikan. Setelah berubah menjadi serangga, ia hanya mau memakanan yang busuk dan kotor.
Ketika pertama kali berubah, Gregor Samsa berharap akan kembali menjadi manusia dan dapat bekerja lagi untuk membantu orang tuanya melunasi hutang mereka. Meskipun, ia sebenarnya merasa lelah dan bosan bekerja sebagai penjual keliling, tapi itulah pekerjaan yang bisa ia lakukan untuk memenuhi kebutuhan keluarga.
Sejak Gregor berubah menjadi serangga menjijikkan, ia kehilangan harapan dan jatuh ke lubang depresi yang dalam. Ia berpikir sebaiknya menghilang saja, daripada terus kelaparan, lelah dan kesepian. Ia tidak lagi mendapat kebahagiaan dalam hidupnya.
Perubahan dari tubuh manusia ke tubuh serangga mengubah perilaku orang-orang di sekitarnya. Ibu Gregor yang semula sangat mencintainya sering kali mual dan jatuh pingsan setiap kali melihatnya. Kondisi itu membuat Ibu Gregor kini lebih merasa takut ketimbang cinta. Begitu dengan Ayah Gregor, sama sekali tidak peduli dengan penderitaan yang dialami anaknya itu. Bahkan beberapa kali Ayahnya mencoba membunuhnya.
Pada awalnya hanya adik perempuannya, Grete, yang mencintainya. Setiap hari Grete memberinya makan, tapi tanpa memandangnya apalagi berbicara. Lambat laun Grete mengabaikannya, dan tinggallah Gregor, si serangga yang lelah, kelaparan dan kesepian.
Saya melihat cerita ini bukan sekedar fiksi yang kosong makna, melainkan kaya akan metafora. Ayahnya adalah seorang kurir Bank yang selalu membenci Gregor jauh sebelum ia menjadi serangga. Ayahnya ingin Gregor menjadi anak lelaki yang sukses melebihi Ayahnya, bukan menjadi penjual keliling yang tidak seberapa. Kebencian Ayahnya tergambar dalam perilakunya setiap hari.
Terkadang Gregor menggambarkan bagaimana ayahnya sangat bengis dan ingin membunuhnya, “Ayah berdiri tegak, mengenakan seragam biru ketat dan mengenakan kancing emas. Di atas kerah jaket yang tinggi, dagunya yang tebal menonjol; di bawah alisnya yang lebat, mata hitamnya melirik tajam, sangat tajam.”
Bahkan ia berkata tentang Ayahnya, “Dia berperilaku seperti bos tanpa otak dan tulang punggung.”
Metamorfosis Kafka, menurut saya, menunjukkan betapa sulitnya jadi manusia di zaman yang terus mengeras, apalagi menjadi serangga. Bahkan di jaman sekarang, banyak orang yang bertubuh manusia tapi nasibnya seperti serangga, bukan? Manusia yang diabaikan, dihina dan kesepian. Manusia yang seakan-akan tidak berguna, walaupun telah berusaha sedemikian rupa. Manusia yang setiap hari menghabiskan waktunya untuk bekerja, tapi tak mendapat penghormatan yang setimpal hanya karena jenis pekerjaan yang dipandang rendah.