Baligo di atas Kepala

(Repost Tulisan 2013)

Malam itu, saya berjalan kaki menyusuri trotoar di sepanjang jalan Pejaten Raya. Langkah saya tiba-tiba terhenti di depan sebuah café yang nampak sederhana namun memiliki nilai estetik yang cukup tinggi. Dengan dekorasi yang penuh nuansa romantis, ditambah penempatan bunga diantara sejumlah meja yang berbaris rapi, plus warna-warni cahaya lampu yang memantul ke arah tembok, sudah memberikan alasan mengapa banyak orang yang menghabiskan malam disana.Karena itukah langkah saya terhenti?

Jawabannya: bukan! Saya berhenti karena membaca sebuah tulisan di dalam baligo yang berlokasi tepat di depan pintu masuk café tersebut. Tulisannya kira-kira berbunyi seperti ini:”The most beautiful café in Pejaten Raya”. Dengan posisi badan saya setengah menengadah dan tangan kanan menjinjing buku yang entah milik siapa, sementara tangan kiri sibuk menyulut sebatang rokok, saya merasa heran dan bertanya-tanya di dalam hati, apa arti dari tulisan itu?

Nilai Toefl saya 430-an, barangkali tidak terlalu sulit untuk menerjemahkan tulisan seperti itu. Apa yang membuat saya bertanya-tanya adalahmakna dari keseluruhan kalimat itu. Mengapa menggunakan the most tidak the one of? Mengapa tulisan itu ditempatkan tepat di depan pintu tidak di dalam café? Apa tujuan akhir dari kalimat itu? Apa itu ‘most’, ‘beautiful’, ‘in’ dan ‘Pejaten Raya’?

Pertanyaan-pertanyaan di atas mungkin saja membingungkan bagi sebagian orang—bahkan lebih membingungkan dari kalimat yang dipertanyakan. Sejumlah pertanyaan itulah yang sering disebut dengan pertanyaan ‘filosofis’:pertanyaan yang mencoba keluar dan menyembur dari pertanyaan sehari-hari. Dan perlu diingat, itu hanyalah sebagian kecil dari pertanyaan yang tak terhingga banyaknya, khususnya yang terkait dengan apa yang orang alami dalam keseharian. Siapapun, jika dia mau, bisa saja mempertanyakan hal-hal spele namun dengan bobot yang cukup memusingkan. Misalnya, kenapa saya lahir? Padahal tidak ada tawaran sebelumnya apakah saya mau dilahirkan atau tidak? Dan lain sebagainya.

Bertanya berarti berpikir. Berpikir, di dalamnya terkandung aktivitas mencari jawaban. Dan jawaban yang ditemukan kemudian dipertanyakan kembali sampai kepada jawaban yang paling mendasar dan self-evident (jelas dengan sendirinya). Dari fondasi yang sangat jelas dan merupakan hasil dari proses bertanya terus-menerus, kelak akan membentuk sebuah gagasan unik dan terlihat ‘menggairahkan’.

Tidak cukup hanya dengan bertanya. Tentunya, satu hal yang sudah kita ketahui sekaligus dilupakan adalah bahasa. Bahasa, pada gilirannya menempati posisi yang sejajar dengan kegiatan berpikir itu sendiri. Berpikir berarti berbahasa, tetapitidak semua bahasa lahir dari proses berpikir filosofis. Disini, boleh kita katakan, bahasa memilik peran sentral dalam kegiatan berfilsafat.

Dengan demikian, apa yang serng disebut ‘filsafat bahasa’ mendapatkan relevansinya. Keduanya adalah pasangan rumah tangga pengetahuan yang sulit untuk dipisahkan. Bagaimana kalau keduanya mengalami perceraian? Iya, mungkin saja, bahkan perceraian antara bahasa dan makna sudah terjadi ketika bahasa diletakkan bersebelahan dengan makna—sebagian orang menganggapnyasekunder, instrumental dan bukan hakikat. Sebagai contoh, ketika kita berkata “Aku melihat hantu”, maka kata ‘hantu’ tidak selalu menunjuk sebuah realitas yang ada secara riil. Boleh dikatakan, kata ‘hantu’ hanyalah produk kreativitas imajinatif yang bertujuan diluar dari makna kata tersebut.

Pengalaman mempertanyakan ‘bahasa’ sebagai bentuk perwujudan dari filsafat bahasa. Akan tetapi, filsafat bahasa berbeda perannya dengan ‘bahasa filsafat’. Bahasa filsafat berarti metode berpikir filosofis. Metode, sebagaimana pada umumnya, merupakan alat mencapai sesuatu. Dan bagusnya, ini tidak bertentangan dengan peran atau terminologi dari filsafat bahasa. Karena hal ini berkaitan dengan persoalan bahasa, kita bisa saja menggabungkan keduanya menjadi ‘bahasa filsafat bahasa’. Artinya, bahasa filsafat yang mencari hakikat bahasa.

“Bener-bener aneh dan ada yang tidak beres!” gumam saya sambil mengerutkan alis yang terhalang kepulan asap rokok.

Karena khawatir menjadi pusat perhatian, saya mencoba kembali berjalan kaki dan pulang ke asrama. Tapi entah malaikat mata yang berani menggoda saya, tiba-tiba saya berhenti di warung kopi yang tidak jauh dari ATM BRI. Mungkin karena disaku masih tersisa uang tujuh ribu rupiah, cukup beralasan kenapa saya harus berhenti dan menikmati secangkir kopi.

Dengan segera saya masuk dan memesan secangkir kopi hitam. Disamping murah, kopi hitam juga katanya berkhasiat memperkuat ingatan dan mempertajam proses berpikir karena sejumlah urat syaraf menjadi stabil. Apapun alasannya, yang pasti saya hobi saja meminum kopi hitam, bukan karena alasan medis atau filosofis.

Anehnya, perasaan heran dan bertanya-tanya tentang kalimat itu masih terbawa. Bahkan kali ini lebih ‘konyol’, saya mempertanyakan eksistensi bahasa. Kenapa harus ada bahasa? Bukankah munculnya kesalahpahaman karena bahasa, atau paling tidak ketidakmampuan berbahasa? Jika bahasa tidak ada, apakah manusia bisa hidup damai melebihi kenyataan saat ini? Bagi orang bisu, berbahasakah dia?

Mengatasa masalah ini, sudah lama para ahli membuat ilmu tentang bahasa, kalau tidak salah disebut semiotika. Di dalamnya ada usaha membedakan antara ‘tanda’, ‘penanda’ dan ‘petanda’. Tanda adalah kata yang mewakili sebuah realitas. Setiap kata menunjuk sebuah makna. Kata ‘buku’ berarti menunjuk pada sebuah benda yang terbuat dari kertas yang tertumpuk rapi disertai jilid serta nomor halaman. Kata buku itulah yang disebut ‘tanda’.

Kenapa harus ada bahasa? Pertanyaan ini nampak sederhana dan mudah untuk dijawab. Saya, tanpa berpikir lebih dalam, bisa menjawabnya dengan mengatakan bahwa tanpa bahasa maka tidak ada kehidupan sosial. Demikian karena bahasa dipahami secara umum sebagai alat komunikasi. Lagi-lagi alat, bukan hakikat itu sendiri! Sudah puaskah saya dengan jawaban seperti itu?

Kalau-kalau saya merasa puas, maka saya mengalami apa yang disebut ‘kematian eksistensial’. Sebab, saya sebagai manusia telah melawan conditio humana, sebuah kondisi yang salah satunya memiliki kemampuan mempertanyakan kembali secara kritis, radikal sampai ke tingkat meragukan.

Tiba-tiba saja teringat pada sebuah buku yang ditulis oleh F.Budi Hardiman—yang biasa dipanggil Om Franky—berjudul “Mistik Keseharian”, sebuah pengantar untuk menelusuri pemikiran besar dari Martin Heidegger. Di salah satu halaman, Franky mencantumkan quote dari Heidegger yang kurang lebih seperti ini “language is house of being”. Bahasa menjadi rumah bagi ‘ada’.

Minimalisme

Pernahkah kamu melihat seseorang yang duduk di warteg memakai sendal, mengenakan kaos polos dan celana jeans, sementara kamu mengenalnya sebagai direktur sebuah perusahaan ternama?

Pernahkah kamu menyaksikan ada seorang pengusaha sukses yang menggunakan handphone jaman dulu alias jadul, tidak aktif di media sosial dan pergi ke kantor dengan mengendarai sepeda?

Mereka adalah gambaran umum dari gaya hidup minimalis. Minimalisme adalah gaya hidup yang menghindari hal-hal yang tidak penting, tidak dibutuhkan (avoiding the unnecessary). Seorang minimalis hidup dengan sederhana, bebas dan elegan.

Meski tampak mudah, namun kenyataannya tidak sesimpel itu. Kerumitan muncul saat kita mencoba menggali apa yang dimaksud ‘sesuai kebutuhan’ dari gaya hidup minimalis.

Bukankah setiap orang mempunyai kebutuhan berbeda? Jika benar begitu, bukankah seorang kaya raya yang menggunakan mobil mewah bisa disebut minimalis juga jika barang itu ia butuhkan? Lagi-lagi kita kehilangan parameter objektif.

Baiklah, mari kita melihat kembali seorang pengusaha sukses yang mengendarai sepeda untuk pergi ke kantor miliknya. Katakanlah akhirnya dia membeli sebuah mobil yang harganya setinggi langit. Keesokan harinya dia menggunakan mobil itu untuk berangkat ke kantor.

Apakah dengan mengubah kendaraan dari sepeda ke mobil mewah akan mengubah jalan yang ia lalui? Jika jalan yang dilalui sama, apa pentingnya menggunakan mobil yang baru dibelinya? Jika hanya persoalan waktu tempuh, bukankah itu bisa disiasati dengan titik awal ia berangkat sehingga sampai tepat pada waktunya?

Sementara bagi pengusaha sukses yang menggunakan handphone jadul untuk berkomunikasi, logikanya masih serupa. Apakah dengan mengganti handphone ke versi yang paling baru akan mengubah siapa orang yang dihubunginya atau menghubunginya? Akan menjadi absurd kalau hanya karena mengganti gadget lalu tiba-tiba Joe Bidden meneleponnya, bukan?

Berangkat dari pertanyaan tersebut, bisa jadi sesuai kebutuhan yang dimaksud adalah ketika kita lebih memilih esensi atau fungsi daripada hal-hal artifisial. Dalam filsafat Aristotelian, suatu bentuk, warna, jenis hingga mereka disebut dengan aksidental (entitas yang tidak independen dan melekat pada esensi).

Menjadi seorang minimalis, pada akhirnya, menjadi orang yang merasa cukup dengan fungsi dari barang. Selama sebuah barang masih memiliki fungsi untuk memenuhi kebutuhannya, maka cukuplah baginya. Bukan pada dibuat di mana barang itu, apa mereknya, versi ke berapa, dan lain-lain.

Seorang minimalis tidak peduli dengan gengsi. Seorang minimalis melihat barang-barang yang dimiliki sebagai alat atau jalan, bukan sebagai tujuan.

Bagaimana menurut kalian, para user Clubhouse yang budiman?

Homer, Penyair Misterius

Di sini, di depan rumah di atas kursi, sambil menikmati sebungkus kue dan secangkir teh, saya membaca Mythology: Timeless Tale of God and Heroes. Dan saya mendapati persoalan menarik: Misteri Homer.

Tidak ada yang tahu persis kapan penyair Yunani kuno itu hidup. Herodotus yang dikenal sebagai The Father of History menyebut, Homer kira-kira hidup pada 850 tahun SM. Sumber kuno lainnya lebih lama dari itu, yakni sekitar abad ke-12 SM. Namun penelitian paling modern meyakini Homer hidup pada abad ke-7 SM.

Seperti yang kita lihat, penentuan tahun sangat variatif. Kita hanya mengetahui Homer sebagai penyair tertua dalam sejarah sastra Barat, yang memberi pengaruh besar pada perkembangan literasi Eropa – bahkan dunia.

Tapi persoalan Homerik tidak pernah selesai. Beberapa sejarawan bahkan tidak menyakini dia benar-benar nyata dan pernah hidup. Karya-karyanya dianggap sebagai dongeng, di mana penulisnya tidak lebih dari tokoh fiktif. Tetapi bisakah satu orang menulis The Illiad dan The Odyssey?

Peneliti menyimpulkan, dua karya raksasa itu ditulis orang yang sama. Bahasa yang tertuang memiliki kemiripan dalam gaya dan struktur yang mirip. Di samping itu, jenis kelamin Homer pun jadi pembahasan yang berbeda. Ada yang meyakini dia seorang lelaki, tetapi ada yang juga percaya dia seorang gadis muda dari Sisilia, seperti yang dikatakan Samuel Butler.

Ada upaya lain untuk menentukan jenis kelamin Homer, yaitu dengan membaca tulisannya. Meskipun, saya tidak yakin, bagaimana dengan membaca puisinya kita bisa tahu jenis kelaminnya?

Saya beri satu contoh puisi Homer, dalam “The Illiad”, Buku 1, baris 1-16:

Anger be now your song, immortal one,
Akhilleus’ anger, doomed and ruinous,
that caused the Akhaians loss on bitter loss
and crowded brave souls into the undergloom,
leaving so many dead men–carrion
for dogs and birds; and the will of Zeus was done.
Begin it when the two men first contending
broke with one another–
the Lord Marshal
Agamémnon, Atreus’ son, and Prince Akhilleus.

Among the gods, who brought this quarrel on?
The son of Zeus by Lêto. Agamémnon
angered him, so he made a burning wind
of plague rise in the army: rank and file
sickened and died for the ill their chief had done
in despising a man of prayer.

Dalam puisi itu, ada beberapa kata yang menggunakan jenis kelamin laki-laki: Son, Man, He dan Him. Apakah ini menunjukkan seorang perempuan yang mengagumi laki-laki? Sulit dipastikan, karena itu tidak menunjukkan apa-apa. Tapi hingga saat ini, Homer kadung dipandang sebagai lelaki, karena sejarah ditulis dalam sistem patriarkal.

Asal Usul Narsis

Dalam Mitologi Yunani, dikisahkan seorang pria tampan bernama Narcissus berkeliling dunia untuk mencari cinta. Di tengah perjalanan, peri cantik bernama Echo jatuh cinta pada ketampanannya. Peri itu kemudian tenggelam dalam kesedihan berlarut-larut setelah cintanya tertolak.

Mendengar putrinya ditolak, Dewi Nemesis mengutuk Narcissus supaya jatuh cinta pada bayangannya sendiri. Kutukan itu menjadi kenyataan. Ketika Narcissus melihat bayangannya sendiri yang memantul di atas kolam, dia tidak berhenti memandanginya, berhari-hari, berminggu-minggu, sampai dia tidak sadarkan diri dan mati tenggelam. Di tempat itu, tumbuh mekar sebuah bunga yang kemudian disebut “Bunga Narsis”.

Kisah mitos ini memberi kita satu ide utama tentang narsisme, yaitu: cinta diri yang berlebihan. Narsisme adalah cinta diri yang melampaui batas. Pada tingkat tertentu, seorang yang narsis berpikir dirinya lebih tampan, lebih cantik, lebih pinter, merasa lebih penting dari yang lain dan akhirnya, merasa harus diperlakukan secara khusus.

Para psikolog membedakan dua jenis narsisme yang menjadi ciri kepribadian manusia: narsisme yang tampak dan narsisme yang tersembunyi. Narsisme jenis pertama yang paling mudah kita temui: seseorang yang selalu ingin berkuasa, mendominasi dan selalu ingin menjadi pusat perhatian. Jenis kepribadian ini mendorong mereka, di kemudian hari, menjadi politisi, artis, selebritis atau figur publik.

Tentu saja, tidak semua yang disebutkan masuk kategori narsis. Banyak dari mereka mengambil profesi itu karena alasan positif, misalnya, untuk membantu kehidupan orang lain. Bedanya, seorang narsis melakukan sesuatu untuk kepentingan dan popularitasnya sendiri.

Sementara jenis narsisme yang kedua, tidak terlihat jelas. Dia cenderung pendiam, namun dalam hatinya percaya bahwa dia harus diperlakukan khusus dan istimewa. Dia menuntut orang lain memberi perhatian lebih kepadanya. Akibatnya dia mudah tersinggung dan kecewa.

Dari dua jenis narsisme itu, kita dapat menarik satu gambaran yang jelas: mereka sama-sama egois, yakni segalanya untuk dirinya sendiri. Jika seorang narsis menjadi pemimpin, dia akan membuat keputusan yang berbahaya dan merugikan orang banyak. Jika seorang narsis pendiam, dia akan mudah stress, emosional, agressif dan merasa dirinya paling menderita. Dia tidak tahu bahwa dengan sikapnya itu, tidak sedikit orang yang dirugikan.

Dalam psikologi, narsisme pada tingkat yang paling berbahaya masuk ke dalam “gangguan mental” yang disebut dengan Narcissistic Personalities Disorder.

Mitos Sisifus – Albert Camus


Mungkin kita pernah mendengar cerita ini:

Sisifus dikutuk para Dewa untuk mendorong batu besar ke atas bukit, hanya untuk melihat batu itu kembali jatuh. Lalu Sisifus harus mendorongnya kembali ke atas, tapi batu itu jatuh lagi, didorong lagi, jatuh lagi. Begitu seterusnya, berulang-ulang dan selamanya…

Albert Camus, filsuf Prancis abad-20, menulis esai yang sangat populer berjudul “The Myth of Sisyphus”. Dikatakan bahwa para dewa kehabisan akal untuk menjatuhi hukuman paling mengerikan, selain pekerjaan yang sia-sia dan putus asa.

Orang boleh tidak setuju ini hukuman yang terburuk, tetapi jelas ini melelahkan. Namun secara mengejutkan, Camus mengajak kita untuk membayangkan Sisifus bahagia dengan usahanya yang sia-sia. Tidak ada pilihan lain yang harus dilakukan selain menikmati kutukannya.

Sisifus adalah seorang raja Korintus dalam mitologi Yunani Kuno. Ada banyak versi yang menjelaskan mengapa para Dewa mengutuknya secara menyakitkan. Camus mencatat beberapa alasan itu dalam esainya, yakni: Sisifus mencintai hidup secara berlebihan, membenci kematian dan mencemooh para Dewa. Atas alasan itu, Para Dewa menjatuhkan hukuman yang tidak pernah diberikan kepada manusia: usaha tanpa hasil dan tanpa tujuan.

“Inilah hukuman yang harus dibayar akibat hasrat berlebihan pada kehidupan,” kata Camus.

Dari mitos itu, Camus menantang kita untuk bertanya pada diri sendiri, apakah kita sangat mencintai kehidupan yang dijalani? Tetapi sebelum kita menjawabnya, Camus berpendapat bahwa kehidupan seluruh manusia mirip Sisifus yang absurd, sia-sia dan tanpa makna. Bisakah kita bahagia menjalani hidup, sebagaimana Sisifus yang bahagia dalam kesia-siaan?

Jawabannya ada di tangan kita masing-masing.

Secangkir Teh – Kisah Zen

Nain-in adalah guru Zen yang hidup pada tahun 1868 – 1912 Masehi di era Meiji Jepang. Suatu hari di tengah kesibukannya mengajar, seorang professor universitas mengunjunginya untuk mempelajari Zen.

Saat mereka bertemu di halaman, dengan percaya diri professor langsung menyampaikan maksudnya, “Saya professor universitas yang menguasai banyak pengetahuan, mulai dari fisika, biologi sampai astronomi. Saya datang ke sini untuk belajar Zen kepada Anda.”

“Baiklah,” jawab Nain-in, “ikuti saya, kita ngobrol sambil menikmati teh.”

Sesampainya di ruangan, Nain-in yang sopan melayani professor dengan menuangkan teh ke dalam cangkir. Saat teh dituangkan, Nain-in tidak berhenti sampai teh meluap ke atas cangkir. Tetapi dia terus saja menuangkan.

Melihat kejadian itu, professor tidak bisa menahan diri dan berkata, “Sudah cukup, canhkir ini terlalu penuh, tidak mungkin lagi menampung teh!”

Sambil tersenyum Nain-in berhenti menuangkan teh, lalu menoleh kepada professor dan berkata, “Seperti secangkir teh ini, pikiran Anda dipenuhi pendapat dan asumsi Anda sendiri. Bagaimana saya bisa mengajarkan Zen sementara pikiran Anda sudah penuh?”

Kisah ini mengajarkan kita satu konsep sederhana: bahwa untuk meraih pengetahuan baru kita perlu berpikir terbuka. Mengosongkan cangkir pikiran adalah hal penting untuk semua yang hendak belajar apa pun.

Seringkali kita merasa tahu banyak hal, sehingga kita kesulitan untuk mempelajari hal-hal yang baru. Kita kemudian menjadi tertutup, bebal, fanatik dan merasa diri paling tahu dan paling benar di antara yang lain. Kisah secangkir teh ini mengingatkan kita bahwa sebenarnya kita tidak tahu apa-apa, selain ketidaktahuan itu sendiri.

Tiga Ajaran Stoik

‘Stoikisme’ adalah mazhab filsafat yang berkembang 400 tahun dari Yunani sampai Roma. Usia yang sangat panjang itu menunjukkan dukungan yang luas dari generasi ke generasi. Bahkan sampai saat ini, ide-ide Stoik tentang bagaimana menjalani hidup dengan tenang dan berani masih menjadi perbincangan.

Dari sekian banyak filsuf Stoik, ada dua tokoh yang paling menonjol untuk dijadikan panduan: politisi Romawi, penulis dan penasihat Kaisar Nero, ialah Seneca (4-65 M); dan kaisar Romawi, Marcus Aurelius (121-180 M). Karya-karya mereka masih mudah ditemukan dan dibaca pada waktu santai, terutama ketika malam hari saat kecemasan dan segala kegelisahan muncul.

Ajaran-ajaran Stoikisme dapat membantu kita untuk mengatasi empat persoalan:

1. Amarah

Hampir setiap hari kita selalu dibuat marah oleh banyak yang beragam: kawan yang tidak menepati janji, anak-anak yang sulit atur, sampai kepada tingkah para politisi yang menjengkelkan. Filsafat Stoik menganggap kemarahan adalah sikap yang berbahaya. Ledakan kemarahan disebabkan oleh ketidaktahuan pada satu hal: gambaran yang salah tentang kenyataan. Kemarahan adalah buah pahit dari kebodohan.

Kemarahan, menurut Stoik, muncul akibat tabrakan keras antara harapan dan kenyataan yang tidak sesuai. Untuk mengatasi itu, kita harus belajar untuk mengurangi harapan pada apa pun yang terjadi dalam kehidupan. Dengan begitu, maka boleh jadi orang yang kita cintai mengecewakan kita, teman-teman kita membohongi, dan semua itu membuat kita bersedih. Tapi jangan sampai hal itu membuat kita marah.

Orang bijak harus berusaha mencapai kondisi di mana pikiran dan jiwanya tetap tenang, meskipun banyak hal buruk terjadi di depannya.

2. Mengutuk Kenyataan

Sangat mudah untuk mengutuk kehidupan kita sendiri. Kita seringkali bertanya-tanya, mengapa banyak hal buruk terjadi pada kita. Kita terus menerus dihujani masalah dan rasa perih dalam menjalani hidup.

Kaum Stoik menganggap bahwa rasa pahit dalan hidup disebabkan karena kita tidak mampu membedakan mana kondisi yang bisa kita ubah dan mana kondisi yang tidak bisa kita ubah. Sebuah pesawat mengalami keterlambatan datang ke bandara, karena terjadi hujan badai disertai petir dahsyat. Kemudian kita mencaci dan mengutuk pihak penerbangan atas hal itu. Bagi Stoik, protes yang kita lontarkan tidak dapat mengubah keadaan. Dengan kata lain, protes pada keadaan tidak membuat pesawat tiba-tiba datang.

3. Kehilangan Perspektif

Secara alami kita seringkali memperbesar masalah-masalah kecil. Satu persoalan kecil selalu tampak begitu penting bagi kita. Akibatnya kita menjadi stress dan panik. Bahkan ada yang sampai berteriak dan melempar barang-barang ke lantai, hanya karena seekor kucing berak di atas kasur.

Untuk mendapat kembali ketenangan, menurut Stoik, kita harus menjaga jarak dari peristiwa itu sendiri. Kita harus melihat bahwa masalah-masalah yang terjadi dalam kehidupan kita tidak lebih besar dari kehidupan itu sendiri. Stoik mengingatkan kita untuk menyadari di mana kita dan siapa kita sebenarnya.

Stoik menyarankan kita untuk sekali-kali melakukan ini: ketika hari mendekati malam, kita lihat ke langit dan akan kita temukan bintang dan planet-planet lain. Apa yang kita saksikan menunjukkan betapa luasnya ruang yang tidak terbayangkan di seluruh tata surya. Efek ini memberi ketenangan, sekaligus mengingatkan bahwa kita tidak lebih dari makhluk kecil di tengah jagat yang maha luas. Kita kemudian menyadari tidak ada yang patut kita sedihkan.

Miguel De Unamuno

Masalah selalu menghujani kita dari hari ke hari. Sialnya, masalah tidak pernah berhenti. Ibarat keluar dari mulut buaya, masuk ke mulut harimau, dari waktu ke waktu adalah rangkaian masalah tak berkesudahan. Dan seluruh masalah itu membawa kita pada penderitaan tak berujung. Penderitaan menjadi kawan karib yang dekat dengan manusia. Adakah cara untuk kita mengatasi penderitaan?

Filsuf, novelis dan penyair Spanyol, Miguel De Unamuno, dikenal karena karyanya yang sangat manusiawi The Tragic Sense of Life (1913). Dalam bukunya dia menulis, bahwa seluruh kesadaran manusia selalu mengarah pada kematian dan penderitaan. Apa yang menjadikan kita manusia adalah karena kita menderita.

Pada kesan pertama, gagasan itu sangat dekat dengan ajaran Buddha yang mengatakan: penderitaan adalah bagian tak terpisahkan dari kehidupan manusia. Tapi cara Unamuno melihat penderitaan sangatlah berbeda. Tidak seperti Buddha, Unamuno tidak melihat penderitaan sebagai kondisi yang harus dilampaui melalui praktek meditasi. Sebaliknya, penderitaan adalah bagian esensial dari keberadaan kita sebagai manusia. Penderitaan adalah pengalaman inti dari manusia.

Jika penderitaan menjadi bagian esensial dari kehidupan manusia, dan jika dengan penderitaan itulah kita menjadi manusia, maka satu-satunya cara yang bisa kita lakukan adalah merangkul penderitaan. Jika kita mengabaikan penderitaan, maka bukan hanya kita gagal menjadi manusia, tapi juga kita kehilangan kesadaran itu sendiri.

Menurut Unamuno, kita harus mengakui bahwa kita menderita. Karena ketika kita menerima fakta penderitaan kita, maka kita bisa merasakan penderitaan orang lain.

Iklan, Numpang Lewat

Ini bukan jenis buku sekali baca lalu kamu simpan di bawah rak. Kerumitan buku ini dijelaskan dengan bahasa yang mudah dipahami. Cocok untuk jadi teman santai namun mampu menghidupkan nalar dan menambah pengetahuan teks suci terkait eksistensi Tuhan.

Seandainya Nietzsche hidup lagi dan baca buku ini, dia akan bilang, “Oh, Tuhan belum mati toh?”

Jangan tunggu lama-lama. Ayo pesan. Persediaan terbatas! Pesan sekarang melalui saya di nomor whatsapp yang tertera di gambar.

Apa Maksud “Tuhan Telah Mati” yang Dikatakan Nietzsche?

Sudah 138 tahun sejak Friedrich Nietzsche secara provokatif mengabarkan kematian Tuhan, lewat ucapannya “Tuhan telah mati!” (Gott ist tot, dalam bahasa Jerman), banyak orang yang dibuat bingung, mual dan sakit kepala. Bisa jadi inilah ungkapan paling populer di sepanjang sejarah filsafat, dan tidak jarang seorang Mahasiswa merasa keren setiap kali menirukan gayanya.

Nietzche seorang Kristen yang taat pada masa remaja, kemudia berubah menjadi atheis pada masa tua. Apa yang dimaksud dengan kematian Tuhan, nampaknya, bukan benar-benar secara objektif Tuhan telah tiada, melainkan gagasan kita tentang Tuhan. Ketika abad pencerahan bergulir, gagasan tentang alam semesta dan kehidupan di dalamnya dikuasi oleh hukum-hukum fisika. Ini menandakan bahwa segala macam misteri yang muncul dalam kehidupan tidak lagi dipecahkan dengan rumus-rumus ilahi. Bahkan teori-teori moral secara konsisten bisa merujuk pada filsafat dan sains, tanpa harus membuka lembaran teks suci agama. Netzsche hendak mengatakan bahwa bukan hanya Tuhan yang mati, tetapi juga manusia telah membunuhnya dengan revolusi ilmiah.

Paska kematian Tuhan, Nietzche justru memprediksi akan datang bahaya yang lebih besar dan menghancurkan. Tanpa kehadiran Tuhan, sistem kepercayaan bangsa Eropa mengalami situasi yang mencekam. Dalam Twilight of the Idols, Nietzsche menulis:

Kekristenan adalah sebuah sistem, seluruh pandangan tentang banyak hal yang diyakini bersama. Dengan menghancurkan satu konsep utama darinya, yakni iman kepada Tuhan, maka seseorang telah menghancurkan seluruhnya.

Namun demikian, menurut Nietzsche, kematian Tuhan adalah kabar baik untuk segelintir orang – terutama untuk para filsuf. Ia berkata: “Saat mendengar kabar bahwa Tuhan telah mati, kami para filsuf dan jiwa-jiwa yang bebas merasa diterangi oleh fajar baru. Sebuah pagi yang cerah telah tiba. Ketika seluruh sistem kepercayaan lama telah lenyap, maka itu kesempatan untuk menciptakan yang baru meskipun penuh resiko.

Nietzsche percaya, penghapusan sistem kepercayaan lama telah mengantarkan manusia pada jurang keputusasaan dan ketiadaan makna (nihilisme). Apa yang bisa menjadi titik tumpuan untuk tetap hidup tanpa Tuhan? Nietzsche khawatir bahwa kematian Tuhan mengarahkan manusia pada sikap murung dan pesimis, sebuah kehendak untuk kehidupan yang hampa. Kekhawatiran itu kemudian mendorong Nietzsche untuk memikirkan jalan keluar.

Fase nihilisme yang memprihatinkan itu diberikan jalan keluar oleh Nietzsche dengan menyebut istilah kunci: Will to Power (kehendak untuk berkuasa). Ia menulis:

Apa yang aku ceritakan adalah sejarah dua abad ke depan. Aku menggambarkan apa yang akan datang, apa yang tidak lagi bisa ditahan kehadirannya: munculnya nihilisme. Untuk sekarang, seluruh kehidupan Eropa sedang bergerak menuju ke sana.

Ramalan Nietzsche terbukti benar. Saya yakin, ia tidak akan terkejut dengan segala peristiwa yang dialami Eropa khususnya, dan umumnya manusia di seluruh dunia. Komunisme, nazisme, nasionalisme dan ideologi lain yang tumbuh dan melintasi benua setelah Perang Dunia I telah memberikan makna dan nilai yang baru. Kebaruan itu muncul, tetapi dengan nilai yang tidak jauh beda dengan iman Kekristenan yang menanamkan kepercayaan pada tuhan dan menghubungkan moralitas dengan surga. Dengan kata lain, ideologi-ideologi yang menjanjikan kehidupan bahagia malah menjerumuskan manusia pada jurang yang sama: kehampaan.

Tentu saja, seperti yang saya sebutkan sebelumnya, Nietzsche menawarkan jalan keluar – tidak seperti kebanyakan orang yang membongkar persoalan lalu meninggalkannya dalam keadaan hancur. Jalan keluarnya, bagi Nietzsche, adalah dengan menciptakan kembali nilai-nilai manusia secara individu. Nilai dan makna hidup harus diciptakan kembali oleh siapa pun yang siap menjalaninya. Jenis individu yang mampu melakukan ini, memiliki nama khusus yang sangat populer hingga saat ini. Nietzsche menyebutnya: Ubermensch.

Namun sayangnya, jenis manusia semacam ini terlalu jauh, sehingga sulit dikejar oleh kebanyakan manusia awam. Hanya sebagian kecil –bisa dihitung jari – orang-orang yang berhasil meraihnya. Bahkan menurut Nietzsche, bisa jadi Ubermensch belum ada di dunia, yakni seseorang yang telah berhasil menciptakan makna hidup dengan kehendaknya sendiri, dan bertanggungjawab sepenuhnya atas pilihannya sendiri. Dalam Thus Spoke Zarathustra Nietzsche menulis: “Untuk penciptaan baru, saudaraku, “ya” yang suci diperlukan: roh sekarang menghendaki kehendaknya sendiri.”

Menyadari betapa sulitnya kebanyakan manusia untuk mengejar Ubermensch, Nietzsche menawarkan alternatif lain sebagai jalan keluar dari cengkraman nihilsme. Yakni, apa yang ia sebut dengan: The Last Man. Sejenis manusia “paling hina” yang menjalani kehidupan dengan tenang dan tentram, tanpa memikirkan individualitas. Nietzsche membayangkan ‘The Last Man’ telah menemukan kebahagiaan dengan mata yang berkedip-kedip. Kata “berkedip-kedip” menunjukkan masih ada pesimisme tersembunyi dalam menciptakan makna paska kematian Tuhan.

Bagaimana sifat, karakter atau watak dari ‘The Last Man’? Apa yang memungkinkan dia untuk tetap menjalani hidup dengan bahagia? Saya akan jelaskan di kesempatan lain.