
(Repost Tulisan 2013)
Malam itu, saya berjalan kaki menyusuri trotoar di sepanjang jalan Pejaten Raya. Langkah saya tiba-tiba terhenti di depan sebuah café yang nampak sederhana namun memiliki nilai estetik yang cukup tinggi. Dengan dekorasi yang penuh nuansa romantis, ditambah penempatan bunga diantara sejumlah meja yang berbaris rapi, plus warna-warni cahaya lampu yang memantul ke arah tembok, sudah memberikan alasan mengapa banyak orang yang menghabiskan malam disana.Karena itukah langkah saya terhenti?
Jawabannya: bukan! Saya berhenti karena membaca sebuah tulisan di dalam baligo yang berlokasi tepat di depan pintu masuk café tersebut. Tulisannya kira-kira berbunyi seperti ini:”The most beautiful café in Pejaten Raya”. Dengan posisi badan saya setengah menengadah dan tangan kanan menjinjing buku yang entah milik siapa, sementara tangan kiri sibuk menyulut sebatang rokok, saya merasa heran dan bertanya-tanya di dalam hati, apa arti dari tulisan itu?
Nilai Toefl saya 430-an, barangkali tidak terlalu sulit untuk menerjemahkan tulisan seperti itu. Apa yang membuat saya bertanya-tanya adalahmakna dari keseluruhan kalimat itu. Mengapa menggunakan the most tidak the one of? Mengapa tulisan itu ditempatkan tepat di depan pintu tidak di dalam café? Apa tujuan akhir dari kalimat itu? Apa itu ‘most’, ‘beautiful’, ‘in’ dan ‘Pejaten Raya’?
Pertanyaan-pertanyaan di atas mungkin saja membingungkan bagi sebagian orang—bahkan lebih membingungkan dari kalimat yang dipertanyakan. Sejumlah pertanyaan itulah yang sering disebut dengan pertanyaan ‘filosofis’:pertanyaan yang mencoba keluar dan menyembur dari pertanyaan sehari-hari. Dan perlu diingat, itu hanyalah sebagian kecil dari pertanyaan yang tak terhingga banyaknya, khususnya yang terkait dengan apa yang orang alami dalam keseharian. Siapapun, jika dia mau, bisa saja mempertanyakan hal-hal spele namun dengan bobot yang cukup memusingkan. Misalnya, kenapa saya lahir? Padahal tidak ada tawaran sebelumnya apakah saya mau dilahirkan atau tidak? Dan lain sebagainya.
Bertanya berarti berpikir. Berpikir, di dalamnya terkandung aktivitas mencari jawaban. Dan jawaban yang ditemukan kemudian dipertanyakan kembali sampai kepada jawaban yang paling mendasar dan self-evident (jelas dengan sendirinya). Dari fondasi yang sangat jelas dan merupakan hasil dari proses bertanya terus-menerus, kelak akan membentuk sebuah gagasan unik dan terlihat ‘menggairahkan’.
Tidak cukup hanya dengan bertanya. Tentunya, satu hal yang sudah kita ketahui sekaligus dilupakan adalah bahasa. Bahasa, pada gilirannya menempati posisi yang sejajar dengan kegiatan berpikir itu sendiri. Berpikir berarti berbahasa, tetapitidak semua bahasa lahir dari proses berpikir filosofis. Disini, boleh kita katakan, bahasa memilik peran sentral dalam kegiatan berfilsafat.
Dengan demikian, apa yang serng disebut ‘filsafat bahasa’ mendapatkan relevansinya. Keduanya adalah pasangan rumah tangga pengetahuan yang sulit untuk dipisahkan. Bagaimana kalau keduanya mengalami perceraian? Iya, mungkin saja, bahkan perceraian antara bahasa dan makna sudah terjadi ketika bahasa diletakkan bersebelahan dengan makna—sebagian orang menganggapnyasekunder, instrumental dan bukan hakikat. Sebagai contoh, ketika kita berkata “Aku melihat hantu”, maka kata ‘hantu’ tidak selalu menunjuk sebuah realitas yang ada secara riil. Boleh dikatakan, kata ‘hantu’ hanyalah produk kreativitas imajinatif yang bertujuan diluar dari makna kata tersebut.
Pengalaman mempertanyakan ‘bahasa’ sebagai bentuk perwujudan dari filsafat bahasa. Akan tetapi, filsafat bahasa berbeda perannya dengan ‘bahasa filsafat’. Bahasa filsafat berarti metode berpikir filosofis. Metode, sebagaimana pada umumnya, merupakan alat mencapai sesuatu. Dan bagusnya, ini tidak bertentangan dengan peran atau terminologi dari filsafat bahasa. Karena hal ini berkaitan dengan persoalan bahasa, kita bisa saja menggabungkan keduanya menjadi ‘bahasa filsafat bahasa’. Artinya, bahasa filsafat yang mencari hakikat bahasa.
“Bener-bener aneh dan ada yang tidak beres!” gumam saya sambil mengerutkan alis yang terhalang kepulan asap rokok.
Karena khawatir menjadi pusat perhatian, saya mencoba kembali berjalan kaki dan pulang ke asrama. Tapi entah malaikat mata yang berani menggoda saya, tiba-tiba saya berhenti di warung kopi yang tidak jauh dari ATM BRI. Mungkin karena disaku masih tersisa uang tujuh ribu rupiah, cukup beralasan kenapa saya harus berhenti dan menikmati secangkir kopi.
Dengan segera saya masuk dan memesan secangkir kopi hitam. Disamping murah, kopi hitam juga katanya berkhasiat memperkuat ingatan dan mempertajam proses berpikir karena sejumlah urat syaraf menjadi stabil. Apapun alasannya, yang pasti saya hobi saja meminum kopi hitam, bukan karena alasan medis atau filosofis.
Anehnya, perasaan heran dan bertanya-tanya tentang kalimat itu masih terbawa. Bahkan kali ini lebih ‘konyol’, saya mempertanyakan eksistensi bahasa. Kenapa harus ada bahasa? Bukankah munculnya kesalahpahaman karena bahasa, atau paling tidak ketidakmampuan berbahasa? Jika bahasa tidak ada, apakah manusia bisa hidup damai melebihi kenyataan saat ini? Bagi orang bisu, berbahasakah dia?
Mengatasa masalah ini, sudah lama para ahli membuat ilmu tentang bahasa, kalau tidak salah disebut semiotika. Di dalamnya ada usaha membedakan antara ‘tanda’, ‘penanda’ dan ‘petanda’. Tanda adalah kata yang mewakili sebuah realitas. Setiap kata menunjuk sebuah makna. Kata ‘buku’ berarti menunjuk pada sebuah benda yang terbuat dari kertas yang tertumpuk rapi disertai jilid serta nomor halaman. Kata buku itulah yang disebut ‘tanda’.
Kenapa harus ada bahasa? Pertanyaan ini nampak sederhana dan mudah untuk dijawab. Saya, tanpa berpikir lebih dalam, bisa menjawabnya dengan mengatakan bahwa tanpa bahasa maka tidak ada kehidupan sosial. Demikian karena bahasa dipahami secara umum sebagai alat komunikasi. Lagi-lagi alat, bukan hakikat itu sendiri! Sudah puaskah saya dengan jawaban seperti itu?
Kalau-kalau saya merasa puas, maka saya mengalami apa yang disebut ‘kematian eksistensial’. Sebab, saya sebagai manusia telah melawan conditio humana, sebuah kondisi yang salah satunya memiliki kemampuan mempertanyakan kembali secara kritis, radikal sampai ke tingkat meragukan.
Tiba-tiba saja teringat pada sebuah buku yang ditulis oleh F.Budi Hardiman—yang biasa dipanggil Om Franky—berjudul “Mistik Keseharian”, sebuah pengantar untuk menelusuri pemikiran besar dari Martin Heidegger. Di salah satu halaman, Franky mencantumkan quote dari Heidegger yang kurang lebih seperti ini “language is house of being”. Bahasa menjadi rumah bagi ‘ada’.