
Pernahkah kamu melihat seseorang yang duduk di warteg memakai sendal, mengenakan kaos polos dan celana jeans, sementara kamu mengenalnya sebagai direktur sebuah perusahaan ternama?
Pernahkah kamu menyaksikan ada seorang pengusaha sukses yang menggunakan handphone jaman dulu alias jadul, tidak aktif di media sosial dan pergi ke kantor dengan mengendarai sepeda?
Mereka adalah gambaran umum dari gaya hidup minimalis. Minimalisme adalah gaya hidup yang menghindari hal-hal yang tidak penting, tidak dibutuhkan (avoiding the unnecessary). Seorang minimalis hidup dengan sederhana, bebas dan elegan.
Meski tampak mudah, namun kenyataannya tidak sesimpel itu. Kerumitan muncul saat kita mencoba menggali apa yang dimaksud ‘sesuai kebutuhan’ dari gaya hidup minimalis.
Bukankah setiap orang mempunyai kebutuhan berbeda? Jika benar begitu, bukankah seorang kaya raya yang menggunakan mobil mewah bisa disebut minimalis juga jika barang itu ia butuhkan? Lagi-lagi kita kehilangan parameter objektif.
Baiklah, mari kita melihat kembali seorang pengusaha sukses yang mengendarai sepeda untuk pergi ke kantor miliknya. Katakanlah akhirnya dia membeli sebuah mobil yang harganya setinggi langit. Keesokan harinya dia menggunakan mobil itu untuk berangkat ke kantor.
Apakah dengan mengubah kendaraan dari sepeda ke mobil mewah akan mengubah jalan yang ia lalui? Jika jalan yang dilalui sama, apa pentingnya menggunakan mobil yang baru dibelinya? Jika hanya persoalan waktu tempuh, bukankah itu bisa disiasati dengan titik awal ia berangkat sehingga sampai tepat pada waktunya?
Sementara bagi pengusaha sukses yang menggunakan handphone jadul untuk berkomunikasi, logikanya masih serupa. Apakah dengan mengganti handphone ke versi yang paling baru akan mengubah siapa orang yang dihubunginya atau menghubunginya? Akan menjadi absurd kalau hanya karena mengganti gadget lalu tiba-tiba Joe Bidden meneleponnya, bukan?
Berangkat dari pertanyaan tersebut, bisa jadi sesuai kebutuhan yang dimaksud adalah ketika kita lebih memilih esensi atau fungsi daripada hal-hal artifisial. Dalam filsafat Aristotelian, suatu bentuk, warna, jenis hingga mereka disebut dengan aksidental (entitas yang tidak independen dan melekat pada esensi).
Menjadi seorang minimalis, pada akhirnya, menjadi orang yang merasa cukup dengan fungsi dari barang. Selama sebuah barang masih memiliki fungsi untuk memenuhi kebutuhannya, maka cukuplah baginya. Bukan pada dibuat di mana barang itu, apa mereknya, versi ke berapa, dan lain-lain.
Seorang minimalis tidak peduli dengan gengsi. Seorang minimalis melihat barang-barang yang dimiliki sebagai alat atau jalan, bukan sebagai tujuan.
Bagaimana menurut kalian, para user Clubhouse yang budiman?