Homer, Penyair Misterius

Di sini, di depan rumah di atas kursi, sambil menikmati sebungkus kue dan secangkir teh, saya membaca Mythology: Timeless Tale of God and Heroes. Dan saya mendapati persoalan menarik: Misteri Homer.

Tidak ada yang tahu persis kapan penyair Yunani kuno itu hidup. Herodotus yang dikenal sebagai The Father of History menyebut, Homer kira-kira hidup pada 850 tahun SM. Sumber kuno lainnya lebih lama dari itu, yakni sekitar abad ke-12 SM. Namun penelitian paling modern meyakini Homer hidup pada abad ke-7 SM.

Seperti yang kita lihat, penentuan tahun sangat variatif. Kita hanya mengetahui Homer sebagai penyair tertua dalam sejarah sastra Barat, yang memberi pengaruh besar pada perkembangan literasi Eropa – bahkan dunia.

Tapi persoalan Homerik tidak pernah selesai. Beberapa sejarawan bahkan tidak menyakini dia benar-benar nyata dan pernah hidup. Karya-karyanya dianggap sebagai dongeng, di mana penulisnya tidak lebih dari tokoh fiktif. Tetapi bisakah satu orang menulis The Illiad dan The Odyssey?

Peneliti menyimpulkan, dua karya raksasa itu ditulis orang yang sama. Bahasa yang tertuang memiliki kemiripan dalam gaya dan struktur yang mirip. Di samping itu, jenis kelamin Homer pun jadi pembahasan yang berbeda. Ada yang meyakini dia seorang lelaki, tetapi ada yang juga percaya dia seorang gadis muda dari Sisilia, seperti yang dikatakan Samuel Butler.

Ada upaya lain untuk menentukan jenis kelamin Homer, yaitu dengan membaca tulisannya. Meskipun, saya tidak yakin, bagaimana dengan membaca puisinya kita bisa tahu jenis kelaminnya?

Saya beri satu contoh puisi Homer, dalam “The Illiad”, Buku 1, baris 1-16:

Anger be now your song, immortal one,
Akhilleus’ anger, doomed and ruinous,
that caused the Akhaians loss on bitter loss
and crowded brave souls into the undergloom,
leaving so many dead men–carrion
for dogs and birds; and the will of Zeus was done.
Begin it when the two men first contending
broke with one another–
the Lord Marshal
Agamémnon, Atreus’ son, and Prince Akhilleus.

Among the gods, who brought this quarrel on?
The son of Zeus by Lêto. Agamémnon
angered him, so he made a burning wind
of plague rise in the army: rank and file
sickened and died for the ill their chief had done
in despising a man of prayer.

Dalam puisi itu, ada beberapa kata yang menggunakan jenis kelamin laki-laki: Son, Man, He dan Him. Apakah ini menunjukkan seorang perempuan yang mengagumi laki-laki? Sulit dipastikan, karena itu tidak menunjukkan apa-apa. Tapi hingga saat ini, Homer kadung dipandang sebagai lelaki, karena sejarah ditulis dalam sistem patriarkal.

Tinggalkan komentar