
Dalam Mitologi Yunani, dikisahkan seorang pria tampan bernama Narcissus berkeliling dunia untuk mencari cinta. Di tengah perjalanan, peri cantik bernama Echo jatuh cinta pada ketampanannya. Peri itu kemudian tenggelam dalam kesedihan berlarut-larut setelah cintanya tertolak.
Mendengar putrinya ditolak, Dewi Nemesis mengutuk Narcissus supaya jatuh cinta pada bayangannya sendiri. Kutukan itu menjadi kenyataan. Ketika Narcissus melihat bayangannya sendiri yang memantul di atas kolam, dia tidak berhenti memandanginya, berhari-hari, berminggu-minggu, sampai dia tidak sadarkan diri dan mati tenggelam. Di tempat itu, tumbuh mekar sebuah bunga yang kemudian disebut “Bunga Narsis”.
Kisah mitos ini memberi kita satu ide utama tentang narsisme, yaitu: cinta diri yang berlebihan. Narsisme adalah cinta diri yang melampaui batas. Pada tingkat tertentu, seorang yang narsis berpikir dirinya lebih tampan, lebih cantik, lebih pinter, merasa lebih penting dari yang lain dan akhirnya, merasa harus diperlakukan secara khusus.
Para psikolog membedakan dua jenis narsisme yang menjadi ciri kepribadian manusia: narsisme yang tampak dan narsisme yang tersembunyi. Narsisme jenis pertama yang paling mudah kita temui: seseorang yang selalu ingin berkuasa, mendominasi dan selalu ingin menjadi pusat perhatian. Jenis kepribadian ini mendorong mereka, di kemudian hari, menjadi politisi, artis, selebritis atau figur publik.
Tentu saja, tidak semua yang disebutkan masuk kategori narsis. Banyak dari mereka mengambil profesi itu karena alasan positif, misalnya, untuk membantu kehidupan orang lain. Bedanya, seorang narsis melakukan sesuatu untuk kepentingan dan popularitasnya sendiri.
Sementara jenis narsisme yang kedua, tidak terlihat jelas. Dia cenderung pendiam, namun dalam hatinya percaya bahwa dia harus diperlakukan khusus dan istimewa. Dia menuntut orang lain memberi perhatian lebih kepadanya. Akibatnya dia mudah tersinggung dan kecewa.
Dari dua jenis narsisme itu, kita dapat menarik satu gambaran yang jelas: mereka sama-sama egois, yakni segalanya untuk dirinya sendiri. Jika seorang narsis menjadi pemimpin, dia akan membuat keputusan yang berbahaya dan merugikan orang banyak. Jika seorang narsis pendiam, dia akan mudah stress, emosional, agressif dan merasa dirinya paling menderita. Dia tidak tahu bahwa dengan sikapnya itu, tidak sedikit orang yang dirugikan.
Dalam psikologi, narsisme pada tingkat yang paling berbahaya masuk ke dalam “gangguan mental” yang disebut dengan Narcissistic Personalities Disorder.