Mitos Sisifus – Albert Camus


Mungkin kita pernah mendengar cerita ini:

Sisifus dikutuk para Dewa untuk mendorong batu besar ke atas bukit, hanya untuk melihat batu itu kembali jatuh. Lalu Sisifus harus mendorongnya kembali ke atas, tapi batu itu jatuh lagi, didorong lagi, jatuh lagi. Begitu seterusnya, berulang-ulang dan selamanya…

Albert Camus, filsuf Prancis abad-20, menulis esai yang sangat populer berjudul “The Myth of Sisyphus”. Dikatakan bahwa para dewa kehabisan akal untuk menjatuhi hukuman paling mengerikan, selain pekerjaan yang sia-sia dan putus asa.

Orang boleh tidak setuju ini hukuman yang terburuk, tetapi jelas ini melelahkan. Namun secara mengejutkan, Camus mengajak kita untuk membayangkan Sisifus bahagia dengan usahanya yang sia-sia. Tidak ada pilihan lain yang harus dilakukan selain menikmati kutukannya.

Sisifus adalah seorang raja Korintus dalam mitologi Yunani Kuno. Ada banyak versi yang menjelaskan mengapa para Dewa mengutuknya secara menyakitkan. Camus mencatat beberapa alasan itu dalam esainya, yakni: Sisifus mencintai hidup secara berlebihan, membenci kematian dan mencemooh para Dewa. Atas alasan itu, Para Dewa menjatuhkan hukuman yang tidak pernah diberikan kepada manusia: usaha tanpa hasil dan tanpa tujuan.

“Inilah hukuman yang harus dibayar akibat hasrat berlebihan pada kehidupan,” kata Camus.

Dari mitos itu, Camus menantang kita untuk bertanya pada diri sendiri, apakah kita sangat mencintai kehidupan yang dijalani? Tetapi sebelum kita menjawabnya, Camus berpendapat bahwa kehidupan seluruh manusia mirip Sisifus yang absurd, sia-sia dan tanpa makna. Bisakah kita bahagia menjalani hidup, sebagaimana Sisifus yang bahagia dalam kesia-siaan?

Jawabannya ada di tangan kita masing-masing.

Tinggalkan komentar