Apa Maksud “Tuhan Telah Mati” yang Dikatakan Nietzsche?

Sudah 138 tahun sejak Friedrich Nietzsche secara provokatif mengabarkan kematian Tuhan, lewat ucapannya “Tuhan telah mati!” (Gott ist tot, dalam bahasa Jerman), banyak orang yang dibuat bingung, mual dan sakit kepala. Bisa jadi inilah ungkapan paling populer di sepanjang sejarah filsafat, dan tidak jarang seorang Mahasiswa merasa keren setiap kali menirukan gayanya.

Nietzche seorang Kristen yang taat pada masa remaja, kemudia berubah menjadi atheis pada masa tua. Apa yang dimaksud dengan kematian Tuhan, nampaknya, bukan benar-benar secara objektif Tuhan telah tiada, melainkan gagasan kita tentang Tuhan. Ketika abad pencerahan bergulir, gagasan tentang alam semesta dan kehidupan di dalamnya dikuasi oleh hukum-hukum fisika. Ini menandakan bahwa segala macam misteri yang muncul dalam kehidupan tidak lagi dipecahkan dengan rumus-rumus ilahi. Bahkan teori-teori moral secara konsisten bisa merujuk pada filsafat dan sains, tanpa harus membuka lembaran teks suci agama. Netzsche hendak mengatakan bahwa bukan hanya Tuhan yang mati, tetapi juga manusia telah membunuhnya dengan revolusi ilmiah.

Paska kematian Tuhan, Nietzche justru memprediksi akan datang bahaya yang lebih besar dan menghancurkan. Tanpa kehadiran Tuhan, sistem kepercayaan bangsa Eropa mengalami situasi yang mencekam. Dalam Twilight of the Idols, Nietzsche menulis:

Kekristenan adalah sebuah sistem, seluruh pandangan tentang banyak hal yang diyakini bersama. Dengan menghancurkan satu konsep utama darinya, yakni iman kepada Tuhan, maka seseorang telah menghancurkan seluruhnya.

Namun demikian, menurut Nietzsche, kematian Tuhan adalah kabar baik untuk segelintir orang – terutama untuk para filsuf. Ia berkata: “Saat mendengar kabar bahwa Tuhan telah mati, kami para filsuf dan jiwa-jiwa yang bebas merasa diterangi oleh fajar baru. Sebuah pagi yang cerah telah tiba. Ketika seluruh sistem kepercayaan lama telah lenyap, maka itu kesempatan untuk menciptakan yang baru meskipun penuh resiko.

Nietzsche percaya, penghapusan sistem kepercayaan lama telah mengantarkan manusia pada jurang keputusasaan dan ketiadaan makna (nihilisme). Apa yang bisa menjadi titik tumpuan untuk tetap hidup tanpa Tuhan? Nietzsche khawatir bahwa kematian Tuhan mengarahkan manusia pada sikap murung dan pesimis, sebuah kehendak untuk kehidupan yang hampa. Kekhawatiran itu kemudian mendorong Nietzsche untuk memikirkan jalan keluar.

Fase nihilisme yang memprihatinkan itu diberikan jalan keluar oleh Nietzsche dengan menyebut istilah kunci: Will to Power (kehendak untuk berkuasa). Ia menulis:

Apa yang aku ceritakan adalah sejarah dua abad ke depan. Aku menggambarkan apa yang akan datang, apa yang tidak lagi bisa ditahan kehadirannya: munculnya nihilisme. Untuk sekarang, seluruh kehidupan Eropa sedang bergerak menuju ke sana.

Ramalan Nietzsche terbukti benar. Saya yakin, ia tidak akan terkejut dengan segala peristiwa yang dialami Eropa khususnya, dan umumnya manusia di seluruh dunia. Komunisme, nazisme, nasionalisme dan ideologi lain yang tumbuh dan melintasi benua setelah Perang Dunia I telah memberikan makna dan nilai yang baru. Kebaruan itu muncul, tetapi dengan nilai yang tidak jauh beda dengan iman Kekristenan yang menanamkan kepercayaan pada tuhan dan menghubungkan moralitas dengan surga. Dengan kata lain, ideologi-ideologi yang menjanjikan kehidupan bahagia malah menjerumuskan manusia pada jurang yang sama: kehampaan.

Tentu saja, seperti yang saya sebutkan sebelumnya, Nietzsche menawarkan jalan keluar – tidak seperti kebanyakan orang yang membongkar persoalan lalu meninggalkannya dalam keadaan hancur. Jalan keluarnya, bagi Nietzsche, adalah dengan menciptakan kembali nilai-nilai manusia secara individu. Nilai dan makna hidup harus diciptakan kembali oleh siapa pun yang siap menjalaninya. Jenis individu yang mampu melakukan ini, memiliki nama khusus yang sangat populer hingga saat ini. Nietzsche menyebutnya: Ubermensch.

Namun sayangnya, jenis manusia semacam ini terlalu jauh, sehingga sulit dikejar oleh kebanyakan manusia awam. Hanya sebagian kecil –bisa dihitung jari – orang-orang yang berhasil meraihnya. Bahkan menurut Nietzsche, bisa jadi Ubermensch belum ada di dunia, yakni seseorang yang telah berhasil menciptakan makna hidup dengan kehendaknya sendiri, dan bertanggungjawab sepenuhnya atas pilihannya sendiri. Dalam Thus Spoke Zarathustra Nietzsche menulis: “Untuk penciptaan baru, saudaraku, “ya” yang suci diperlukan: roh sekarang menghendaki kehendaknya sendiri.”

Menyadari betapa sulitnya kebanyakan manusia untuk mengejar Ubermensch, Nietzsche menawarkan alternatif lain sebagai jalan keluar dari cengkraman nihilsme. Yakni, apa yang ia sebut dengan: The Last Man. Sejenis manusia “paling hina” yang menjalani kehidupan dengan tenang dan tentram, tanpa memikirkan individualitas. Nietzsche membayangkan ‘The Last Man’ telah menemukan kebahagiaan dengan mata yang berkedip-kedip. Kata “berkedip-kedip” menunjukkan masih ada pesimisme tersembunyi dalam menciptakan makna paska kematian Tuhan.

Bagaimana sifat, karakter atau watak dari ‘The Last Man’? Apa yang memungkinkan dia untuk tetap menjalani hidup dengan bahagia? Saya akan jelaskan di kesempatan lain.

Tinggalkan komentar