Apa Artinya Menjadi ‘Aku’? – Sartre Dalam Tujuh Paragraf

Filsuf eksistensialis, Jean-Paul Sartre (1980 M) meyakini bahwa manusia menjalani kehidupan yang berat dan penuh derita. Bukan karena hidup itu mengerikan, tapi karena “manusia dikutuk untuk bebas.”

Manusia semacam dilempar ke dunia untuk “meng-ada”, dan ketika manusiamenyadari keberadaan itu, ia akhirnya harus membuat pilihan. Bahkan ketika manusia memutuskan untuk tidak memilih, itu sudah merupakan pilihan. Menurut Sartre, apa yang kita pilih menunjukkan bagaimana seharusnya kita menjadi manusia.

Sebilah pisau punya “esensi” yang membuat dirinya menjadi pisau. Katakanlah, esensi pisau adalah untuk memotong sayuran dan daging. Jika ia tidak digunakan untuk itu, maka ia bukan lagi pisau (misalnya, digunakan untuk menggali tanah).

Esensi pisau – seperti yang telah disebutkan – adalah kondisi “pra-eksis” pisau secara aktual, di mana seorang tukang membuatnya untuk tujuan tertentu. Namun menurut Sartre, tidak ada tujuan bagi manusia, tidak seperti sebilah pisau dengan tujuan yang sudah didesain oleh seorang tukang.

Jadi bagi Sartre, tidak ada plot, tujuan atau desain yang mengharuskan manusia melakukan ini dan itu. Tidak ada Tuhan yang menulis jalan cerita dan tujuan untuk manusia. Tidak ada seorang pun di dunia ini yang memaksa orang lain bagaimana seharusnya hidup.

Dalam kuliah publik tahun 1945, melalui tulisannya Existentialism is Humanism, Sartre mendeklarasikan sebuah adagium yang sangat populer: eksistensi mendahului esensi. Ungkapan ini menjadi prinsip fundamental eksistensialisme. Menjadi jantung pertahanan yang membuat eksistensialisme terus hidup dan memompa darah ideologinya.

Dalam kuliahnya itu, Sartre berkata:

“Aku menciptakan diriku melalui apa yang aku lakukan. Pilihan-pilihan yang aku buat di dunia tidak memiliki nilai yang tetap. Inilah apa yang membuatku menjadi aku: aku adalah apa yang aku lakukan. Apa yang menambah penderitaan adalah, setiap pilihan yang aku buat menghadirkan gambaran tentang apa yang aku yakini menjadi manusia seharusnya. Dalam upaya membentuk diriku, aku membentuk kemanusiaan. Aku harus bertindak seolah-olah setiap orang mengawasiku, dan tidak ada jalan keluar.”

Tinggalkan komentar