Hendra Januar
Siang tadi, saya duduk di depan notebook di kamar, mencoba menyelesaikan tulisan saya tentang Martin Heidegger bagian ketiga. Tetapi saya benar-benar tidak dapat berkonsentrasi seperti biasanya. Seorang pembawa berita, dengan wajah yang prihatin, melaporkan penyebaran virus corona dan peningkatan kasusnya. Tentu saja sejak awal ini bukan lelucon, kendati saya berusaha mengabaikan, kabar itu terus saja mengganggu. Saya juga menyaksikan kecemasan dan kekhawatiran menyebar secepat virus itu sendiri.
Saya kemudian berpikir tentang “efek domino”, atau seringkali orang sebut butterfly effect (efek kupu-kupu), dan bagaimana manusia seharusnya berhubungan di bawah ancaman virus. Saya tidak tahu banyak hal tentang sains, tidak juga membaca dengan rinci usaha pemerintah untuk menanggulangi penyebarannya, tetapi berita yang terus berkembang terdengar sangat tidak mengenakkan.
Seperti banyak orang yang khawatir, saya ingin mengatakan sesuatu dengan jujur, sebagai orang yang berusaha merawat kewarasan. Tetapi saya tidak tahu harus mulai dari mana. Saya hanya tahu bahwa saya saat ini menjadi semakin peduli, bukan hanya pada orang lain secara umum, tetapi juga pada keluarga secara khusus. Pada saat yang sama, hati saya terpukul dengan jumlah kasus yang terus meningkat, ditambah ucapan Luhut Panjaitan yang implisit melihat korban sekedar angka-angka.
Terus terang, di masa “isolasi” ini, tidak banyak aktivitas yang saya lakukan, kecuali mengajar daring dua hari dalam seminggu, olahraga dan tentu saja menulis. Bagi saya, menulis adalah upaya terapi dari kengerian dunia yang, semakian hari, semakin mengkhawatirkan. Dan saya masih meyakini bahwa tidak ada alasan yang lebih baik untuk menulis, kecuali untuk merasakan keindahan bahasa sekaligus rasa sakit pada hidup. Tetapi, apakah itu terlalu berlebihan?
Hari ini banyak sekali orang yang tiba-tiba menjadi ahli tentang virus, seolah-olah mereka mengetahui betul apa yang terjadi. Bahkan protes dari dua kubu politik – antara pusat pemerintah dan DKI Jakarta – terus berlangsung. Sangat ironis, di tengah banyak orang yang gugur “dibunuh” corona, masih ada saja upaya saling mengamankan junjunan. Tetapi saya tidak dapat menemukan bahasa yang cocok untuk menggambarkan semua peristiwa ini, kecuali dengan mengingatkan bahwa dampak politik dari virus ini bisa sangat besar.
Di depan notebook ini, ditemani lagu-lagu jazz dan kopi yang tinggal setengah, saya ingin mengungkapkan rasa takut yang lebih dalam. Bahwa banyak orang yang tidak terbiasa hilang dari keramaian, kemudian mengalami stress, sendirian dan kesepian.
Ketakutan saya, setelah tahu efek virus yang mematikan, tertuju pada efek psikis yang tidak kurang membahayakan. Saya bisa membayangkan satu keluarga yang mengunci pintu setiap hari, menunggu kabar virus berhenti, sementara tabungan mereka semakin terkikis. Seberapa lama manusia bisa sabar? Orang bijak boleh berkata bahwa sabar tidak ada batasnya, tetapi pada kondisi saat ini, saya meragukan kata mutiara itu. Saya juga tidak tahu ketika ada orang mengatakan bahwa “Isolasi adalah seni untuk menyepi”. Beberapa orang mungkin akan melayangkan protes, sebab menyepi dalam ketercukupan materi bisa memungkinkan, tetapi menyepi dalam keterbatasan materi sulit untuk dilakukan.