Dicari: Wanita Seperti Najwa

Najwa Shihab waktu SMA, kedua dari kiri. Foto diambil di twitter dari akun @sibtanyarl

Usia saya tak lagi muda, tetapi juga tidak cukup disebut tua. Seringkali itu tergantung lingkungannya. Di kampung, tiga puluh dua tahun usia yang terlambat untuk menikah. Tetapi di kota, itu usia yang mafhum untuk melajang. Barangkali itulah mengapa tidak jarang saya bulak-balik, ke kampung dan ke kota, untuk sekedar melarikan diri dari pertanyaan yang sama setiap tahun.

Agaknya kurang elok, di masa wabah corona ini, saya malah terpikir soal jodoh. Saya hanya merasa bosan setiap hari dibombardir informasi seputar corona dari segala arah. Tidak di facebook, twitter, instagram, whatsapp, dan obrolan-obrolan di dunia nyata, nyaris semuanya bicara hal yang sama. Memang betul, informasi harus terus up to date, tetapi tidak harus berlebihan, bukan?

Balik lagi ke soal jodoh. Saat ini saya memikirkan siapa yang ditakdirkan akan menjadi pendamping hidup saya nanti. Di mana setiap hari, dialah yang selalu saya lihat, dari bangun tidur sampai tidur kembali. Qiyaman wa qu’udan demi membahagiakan dirinya. Karena hanya dengan itu, saya ikut merasa bahagia. Manunggaling kawula istri, saya dan dia adalah satu.

Tetapi, bagaimana, hingga saat ini saya belum menemukan yang diinginkan. Terkadang saya bertemu dengan perempuan yang tampak sempurna di mata saya, namun kami selalu beda keyakinan: saya yakin mau, dia yakin tidak mau. Akhirnya kami tidak bertemu di tempat yang disebut Rumi sebagai “Ruang Murni”, tanpa dibatasi berbagai prasangka atawa pikiran yang gelisah.

Kepada saya, seorang kawan yang lebih dulu menikah.memberi saran. Katanya tidak perlu banyak memilih untuk pernikahan. Ironisnya saat dia bilang seperti itu, saya lihat nama istri di kontak whatsappnya tertulis “Hitler” – suatu nama yang konotatif, mengisyaratkan sosok yang bringas, kejam dan tanpa ampun. Sekaligus menunjukkan dia sendiri tidak begitu bahagia.

Tapi saran dia sebenarnya bukan hal baru. Saya teringat pada kurun waktu yang jauh dari peradaban moderen, di mana segala sesuatu tampak sederhana dan asri. Kira-kira pada tahun 300 sebelum Masehi, di Athena Yunani, seorang pemuda mendatangi Aristoteles untuk menanyakan apa bedanya cinta dan pernikahan. Filsuf yang sempat berguru pada Plato itu, kemudian menyuruhnya pergi ke kebun bunga untuk mencari bunga yang paling indah.

Berangkatlah pemuda itu menuju kebun bunga. Segera setelah dia masuk, ditemukan olehnya bunga wamar yang merah nan indah. Namun dia berpikir, barangkali di depan ada bunga yang lebih indah. Setiap kali dia temukan bunga, dia mengira di depan ada yang lebih dan lebih, sampai di ujung kebun tidak satu pun bunga dipetiknya. Kemudian dia bergegas kembali ke Aristoteles tanpa sekuntum bunga.

“Seperti itulah cinta,” ucap filsuf yang pernah menjadi guru Aleksander Agung itu. Aristoteles kembali menyuruh hal yang sama. Dan pemuda itu kembali memasuki kebun bunga. Tidak seperti sebelumnya, sekali dia menemukan bunga yang indah, langsung dipetiknya, tanpa berpikir ada yang lebih di depan. Setelah kembali, Aristoteles berkata, “Seperti itulah pernikahan.”

Sekalipun nasehat Aristoteles itu tampaknya benar, saya memperhitungkan dampak selanjutnya, seperti yang dikatakan Franz Kafka: “Lebih baik saling menginginkan tapi tidak hidup bersama, daripada hidup bersama tapi tidak saling menginginkan.” Terbayang jika setiap hari saya hidup bersama wanita yang tidak saya inginkan, bertahun-tahun, rasanya seperti neraka. Memang orang lain itu – termasuk pasangan yang tidak diinginkan – menurut Sartre, adalah neraka.

Wa min ayatihi an kholaqo lakum min anfusikum azwajan, kata Tuhan. Fenomena berpasang-pasangan itu tanda kekuasaan Ilahi. Ada panas ada dingin, ada barat ada timur, ada siang ada malam, ada perempuan ada laki-lali dan ada istri ada suami. Maka seharusnya ketika ada Hendra Januar, ada Ibu Januar. Namun, seperti apakah sosoknya?

Pertanyaan itu membawa saya pada sosok Najwa Shihab, perempuan yang sering muncul di layar televisi dan tidak jarang melontarkan pertanyaan-pertanyaan tajam kepada tamunya. Perempuan yang sempat menjadi media darling di Metro Tv itu, bagi saya memang mendekati sempurna: cantik, cerdik dan karismatik. Itulah mengapa, saya menyaksikan banyak sekali baik lelaki maupun perempuan, yang mengidolakan Najwa. Namun begitu, tentu saja, Najwa hanya ada satu. Dan lagi pula, ini sekedar menjawab pertanyaan tentang figur ideal.

Tinggalkan komentar