Pertanyaan Tentang “Ada” (Bag.2)

Seperti janji saya di bagian pertama, setelah mengurai apa yang menjadi fokus Martin Heidegger, sampai kepada upayanya untuk membangun “kesadaran baru” di dunia filsafat. Di sini, saya akan melanjutkan pertanyaan yang masih menggantung: kesadaran apa yang dimaksud Heidegger?

Untuk menjawab ini, mari kita mulai dengan sebuah kisah seorang pemancing ikan yang setiap hari pergi ke danau:

Pada sore yang cukup cerah, dia pergi ke danau yang tak jauh dari rumahnya. Sesampainya di tepi danau, dia duduk di bawah pohon dan mulai melempar joran. Senar pancing melesat jauh sampai lima belas meter ke arah danau. Dia menunggu dan berharap ada ikan yang segera menggigit umpan.

Tidak seperti biasanya, tiga jam sudah berlalu, tidak satu pun ikan yang sedikit saja tertancap kail. Bahkan sebatang joran yang dia pegang, kini diletakkan di atas rumput dan tidak bergetar sama sekali. Sambil sabar menunggu, wajahnya menengadah dan dilihat olehnya langit yang cerah dihiasi kawanan awan putih yang bergerak lamban.

Namun tiba-tiba, setelah beberapa saat, dia jatuh pada keadaan yang aneh. Dia menangkap sesuatu yang dalam dari kawanan awan itu, sesuatu yang dihadapinya dan memungkinkan untuk tenggelam lebih jauh. Dia merasakan awan-awan itu berbicara padanya, membuka diri dengan telanjang, seperti para penari yang tiba-tiba melepas bajunya. Dia melihat semuanya dan sulit untuk membahasakan apa yang telah dialaminya.

Kemudian dia memalingkan wajahnya dan kembali memandang kail yang mengambang di danau. Kesadarannya yang tenggelam di awan kini memudar. Dia kembali pada realitas sebelumnya, dengan perasaan dan ekspresi wajah yang tampak bingung. Hari hampir mendekati malam, dia bergegas tanpa seeekor ikan pun di kerangjangnya. Tapi sebenarnya, dia tidak pulang dengan hampa.

Ini sekadar fiksi yang saya susun dengan singkat, dengan harapan dapat mendekati apa yang dimaksud kesadaran oleh Heidegger. Apa yang dialami pemancing itu gambaran sederhana untuk “pertanyaan tentang Ada” dan “kesadaran”.

Pertama, pertanyaan tentang Ada tidak bisa dijawab dengan super cepat, meskipun untuk sesuatu yang berada di depan mata. Dalam cerita pemancing, tidak muncul dalam kesadarannya pertanyaan definisi awan. Lebih dari itu, dia mengalami kondisi yang “aneh” dan “samar-samar”, keberadaan awan yang mencoba telanjang dan menarik kesadarannya. Namun kesadaran itu tidak spenuhnya “diberikan” kepada si pemancing. Ada yang mungkin bisa diungkapkan olehnya, dan ada pula yang tidak. Keberadaan awan menyisakan “misteri” yang seharusnya menjadi bunyi alarm untuk semua filsuf. Dan Heidegger mendengar bunyi itu.

Kedua, pengalaman meditatif yang memungkinkan realitas menjadi “terbuka” dapat hilang ditutupi aktivitas dan rutinitas sehari-hari. Kita bisa menyebutnya “dunia keseharian” yang tanpa penghayatan dan renungan. Kesadaran selalu berubah-berubah, apalagi di dunia keseharian yang bergerak cepat dari satu fenomena ke fenomena lainnya. Heidegger bilang, “Pertanyaan tentang Ada bisa dengan mudah dihindari. Kita menerima hal-hal yang ada begitu saja, berpaling dari pertanyaan, menuju rutinitas sehari-hari.”

Ketiga, pada akhirnya kita bertanya, lalu siapa yang berhasil merawat kesadaran semacam ini? Heidegger menjawab: Para penyair. Bagi para penyair, Ada menjadi perhatian yang mendalam. Mereka terus mengungkapkan kesadarannya melalui rangkaian puisi yang hidup. Kata Heidegger, “Ada bermukim dalam bahasa.”

Pertanyaan tentang Ada membutuhkan bahasa “puitik” ketimbang bahasa teoritik. Apakah ini bisa berarti akhir dari kebutuhan pada sistem logika, nalar, kebenaran, pembuktian dan semua yang dibangun dengan argumen terstruktur? Semua yang saya sebutkan di atas (logika, nalar, dsb.) bisa jadi cara untuk mengabaikan pertanyaan tentang Ada – tidak jauh berbeda dengan kebanyakan orang yang sama-sama menghindarinya karena ditutupi rutinitas keseharian.

Kita senantiasa menjawab pertanyaan apa pun dengan nalar logika, atau metode saintifik. Seperti dengan mengumpulkan “fakta” yang hendak diselidiki, lalu melakukan observasi dan memberi gambaran tentang fakta– bukan sebagaimana fakta itu sendiri. Atau dengan cara yang paling gampang, kenapa kita butuh usaha yang rumit untuk sekedar memahami Ada?

Sebagai contoh: Bagaimana kita tahu sesuatu itu “ada”? Jawabannya mudah, yakni, dengan cara melihatnya, merabanya, mendengarnya dan lain-lain. Sensory perception (persepsi inderawi) menawarkan metode dan jawaban yang tidak sulit – kecuali berusaha mempersoalkan persepsi indera seperti Descartes dan Russell. Tapi, si pemancing ikan tadi, keluar dari cara sederhana ini. Dia mengalami semacam phantasmal realism, yang secara inheren tidak tersentuh dengan indera dan mungkin tidak masuk akal.

Maka, selanjutnya, pertanyaan tentang Ada akan berhadapan dengan salah satu mazhab besar dalam filsafat, yang dihuni oleh banyak filsuf kawakan seperti Hobbes, Hume dan Locke. Yakni yang terkenal dengan mazhab empirisisme.

Bagaimana cara Heidegger membantah mazhab empirisis? Dan apa yang bedanya “Ada” (Being) dengan “yang Ada” (Beings)? Nantikan bagian ketiga di blog yang sama. Ikuti terus guys! 😂

Tinggalkan komentar