Pertanyaan Tentang “Ada” (Bag. 1)

Seseorang berkata, “Philosophy is the way to find truth, wisdom and justice.” Seorang lain yang mendengar itu ingin memahami lebih jauh, “So, what is truth?” Mereka selanjutnya mendiskusikan definisi kebenaran, kebijaksanaan dan keadilan, dengan puluhan teori yang menopangnya.

Tapi tahukah Anda? Bagi Heidegger, apa yang mereka diskusikan tidak membawa mereka kemana-mana, jika tidak disebut sia-sia. Mereka melupakan apa yang terselip di antara pertanyaan dan jawaban: kata kerja “is”.

“Is” dalam bahasa Inggris bagian dari kata kerja “To be”. Sebuah kata kerja yang bermakna “being”. Dalam bahasa Indonesia – meskipun tidak persis – kata “adalah” mempunyai makna yang tidak jauh beda.

Ketika kita bertanya “What is ‘Is’?”, sejatinya kita tengah mempertanyakan “Being” (Ada). Pertanyaan inilah yang menjadi fokus filsafat Martin Heidegger. Terdengar aneh? Memang, tapi berangkat dari pertanyaan sederhana itu, Heidegger membawa kita pada dunia yang tidak lagi sama.

Dalam bukunya Being and Time, Heidegger menyatakan sesuatu yang terdengar provokatif. Ia menegaskan, pemikiran barat telah melupakan pertanyaan tentang Ada, bukan hanya baru-baru ini, tapi kelupaan itu telah membentang sampai 2,500 tahun lalu. Tentu saja, para filsuf tidak secara harfiah melupakan makna Ada, tapi cara mereka mendekatinya justru malah menjauhkan mereka dari Ada itu sendiri. Bagaimana bisa? Ikuti terus tulisan ini.

Dari fakta itu, Heidegger terpanggil untuk membawa kembali ‘pertanyaan Ada‘ pada porsi yang lebih sentral dan serius: Bagaimana Ada dapat dipahami? Pemikiran barat tumbuh berkembang dalam kelupaan akan makna Ada – bukan hanya dalam filsafat, tetapi juga dalam ilmu pengetahuan alam (natural sciences), ilmu pengetahuan manusia (human sciences) dan bahkan dalam kehidupan sehari-hari.

Menanyakan Ada, dalam filsafat Heidegger, berarti menunda sementara cara-cara tradisional untuk memahaminya, termasuk metodenya, konsep-konsepnya dan segala asumsi yang mendasari pertanyaan. Dalam bahasa Heidegger, “menawarkan sebuah pemikiran yang menghasilkan kesimpulan sebaliknya.” Sebagaimana banyak filsuf yang menawarkan pemikiran radikal dan memiliki efek destruktif, Heidegger memasuki medan yang tak kalah kontroversial.

Eksistensi di Dunia Kebendaan

Pada kesan pertama, pertanyaan tentang Ada tampak bukan pertanyaan yang berbahaya, tidak mengganggu kehidupan lebih luas; tidak lebih berbahaya dibanding pertanyaan Jokowi atau Prabowo. Agaknya memang demikian, orang-orang yang mendengar pertanyaan itu selalu mengira diskusi akan pergi ke langit dan menjauhi bumi.

Memanglah kata Ada terkesan sangat abstrak, di mana makna yang dikandungnya melesat jauh dan melayang-layang di pikiran. Heidegger menyindir para filsuf sebelumnya dengan mereka ulang bahasa mereka, “Kata itu kosong dan hampa. Ia tidak merujuk pada eksistensi secara umum.” Ia meneruskan, “Termasuk tidak pada segala sesuatu? Bagaimana pun segala sesuatu itu ada, dan tidak satu pun entitas partikular berhasil diidentifikasi. Itu jenis pendekatan yang keliru. Tugas saya adalah menemukan cara berpikir tentang ‘Ada’ dan cara bahasa mengungkapkannya.”

Banyak orang mungkin bertanya-tanya, mengapa mempertanyakan Ada begitu penting? Setiap hari mereka terlibat dengan banyak hal yang ada: kaca, kursi, tiang, awan, hujan, mobil bahkan kota-kota. Rasanya dengan tidak mengajukan pertanyaan itu pun hidup normal-normal saja. Persoalannya, mereka – atau bahkan kita – seolah telah memahami segala hal yang ada secara partikular, dan kemudian praktis mengabaikannya. Sekali kita berupaya memahaminya, kita selalu terjebak ke dalam cara-cara yang teoritik, baik dengan terma-terma saintifik maupun filosofis. Tetapi di antara kegiatan praktis dan upaya teoritis itu, kita dan mereka sama-sama lupa bahwa sesuatu itu ada di sana.

Heidegger ingin menciptakan semacam “kesadaran baru” tentang fenomena tersebut. Dan mungkin kesadaran yang dibangunnya timbul dari is-ness (keberadaan) yang sama sekali sulit dipahami, yang kemudian persoalan Ada tidak lagi dipandangan sebagai persoalan biasa dan banal.

Kesadaran apa yang dimaksud Heidegger? Tunggu bagian kedua, dan tetap ikuti sesi-sesi berikutnya. (Dah kayak serial neflix ya? Biarin)

Tinggalkan komentar