Intermezzo: Terkatung-katung di Masa Corona

Hendra Januar

Alhamdulilah, meskipun masa karantina berlangsung cukup lama, tapi duit tetap mengalir ke rekening Erick Tohir.

Bagaimana dengan rekening saya? Saya menunggu kebaikan Bambang Hartono, selaku pemilik BCA, untuk tidak memblokir ATM saya yang kering kerontang, seperti isi perut anak-anak di Ethiopia.

Ngomong-ngomong, saat ini saya sedang menikmati Secangkir Good Day. Segelas kopi hasil dari proses panjang sampai tiba di meja ini: sejak pemupukan kopi, penyiraman, panen, buruh-buruh pabrik yang berkeringat, mesin-mesin korporasi yang canggih, grosir, kurir, dan prosesnya lain yang mendukung.

Ketika saya meminumnya, saya membayangkan wajah-wajah para petani kopi di kaki gunung Burangrang, anak istri mereka yang tengah memasak ikan asin dan sambal. Tapi bayangan saya memburuk ketika ingat Corona ini belum berakhir. Barangkali, mereka akan harus diam di dalam dusun yang kecil. Terisolasi.

Di saat yang sama, saya membayangkan keluarga Abu Rizal Bakrie atau keluarga Anang Hermansyah yang rumahnya serupa istana. Bagi mereka mengisolasi dalam rumah selama berbulan-bulan bukan masalah. Kalau kamu pergi ke arah timur, akan kamu temukan taman bunga. Ke arah selatan, tampak kolam renang dengan gazebo yang sejuk di tepinya. Puluhan kamar, belasan ruang bebas. Seperti negara kecil yang terputus dari kehidupan luar.

Tapi tidak untuk keluarga petani kopi yang saya sebutkan tadi. Berjalan kiri, akan kamu temukan bilik bambu yang rentan. Ke selatan, kamu akan sampai di ujung jurang. Mereka mendirikan gubuk untuk sekedar menahan hujan dan melindungi diri dari panas matahari.

Maka saya berpikir, karantina diri dalam waktu yang lama bukan hanya masalah untuk ekonomi domestik, tapi juga bencana untuk rakyat kecil. Virus itu menyebar di kota, oleh orang-orang berpendidikan luhur, yang mengerti kehidupan seharusnya. Penduduk pelosok yang sekedar bisa baca tidak tahu apa-apa, tapi mereka bisa terkena dampaknya.

Sampai tulisan ini dibuat, kopi saya tak terasa sudan tinggal setengah. Dan saya membayangkan situasi akan berubah semakin baik. Bulan depan (ini waktu yang lama) kasus-kasus berkurang dan kita dengan gembira merayakan kemenangan manusia. Apakah penderitaan akan berakhir? Belum. Dolar hari ini masih di angka Rp 15.800. Ini artinya keberhasilan mengusir virus akan disusul dengan keadaan ekonomi yang juga belum membaik.

Saya ingin membayangkan esok hari yang indah, cerah, dan sejahtera. Tapi fakta tidak mendukung itu. Baiklah karena berkhayal itu gratis, saya akan secara liar membayangkan Indonesia ini tahun depan sejahtera. Kekayaan laut dikelola oleh negara dan sepenuhnya untuk rakyat. Hutan-hutan dan gunung dikelola untuk kesejahterana rakyat. Segala bentuk hutang terlunasi. Konflik horizontal menurun. Konflik politik semakin mengarah pada pro-keadilan. Alhamdulilah, Indonesia berjaya, dalam khayalan.

Hiduplah Indonesia Raya, cuk!

Tinggalkan komentar