Hendra Januar
Hidup semakin tak tentu arah. Aku anak panah yang terlanjur melesat, tetapi belum sampai di tujuan. Atau mungkin tujuan itu belum ada.
Hari demi hari aku habiskan untuk mencari cara, supaya dunia yang aku huni masih layak aku jalani. Ada malam-malam yang terlalu sunyi, dan aku tak mampu menyusunnya dalam bahasa yang bisa dimengerti – bahkan oleh aku sendiri.
Hidup kok begini amat, ya, ada orang-orang yang dilahirkan di atas ranjang emas; ada orang-orang yang lahir tanpa alas. Setiap orang berlayar di atas perahu menuju pulau masing-masing, dan ketika seseorang telah sampai di sana, ia bercerita tentang keindahan yang membuatku iri.
Aku merasa menjadi lelaki yang paling cengeng di dunia. Perasaan kesal, marah, geram dan sedih berkumpul dalam satu hembusan nafas. Kehidupan yang hadir di depanku adalah kehidupan yang dihadiahkan bukan untukku. Aku cemburu pada mereka yang berhasil menemukan arti, yang merasa bahwa hidup sudah, sedang dan akan dijalani bersama makna-makna yang dibungkus dalam bahasa yang begitu mewah. Saking mewahnya, sampai-sampai aku tidak tahu maksudnya apa.
Orang-orang tampak tahu persis apa yang harus mereka lakukan, dengan cara mengada di dunia yang serba tak pasti. Tetapi tidak jarang aku mendengar seseorang yang hidupnya aman dan mapan, kemudian ia bertanya-tanya mengapa hidupnya tak kungjung bahagia.